Pada saat cahaya fajar mulai muncul, taman dipenuhi dengan sinar matahari yang lembut, embun berkilau seperti bintang-bintang yang bersinar. Putri Qianyan berdiri di ujung taman, angin ringan membelai helaian rambutnya, seolah-olah membisikkan sesuatu. Taman ini baginya bukan hanya tempat yang disukai, tetapi juga tempat perlindungan untuk melarikan diri dari kehidupan istana yang rumit.
Hatinya dipenuhi harapan, karena hari ini ia akan berjalan di dunia yang wangi ini bersama Pangeran Yifan. Yifan adalah sahabat terdekatnya, sekaligus rahasia di dalam hatinya, hubungan mereka secara perlahan menumbuhkan perasaan, dan Qianyan diam-diam menghitung setiap momen manis dalam pertemuan mereka.
Saat ia tenggelam dalam pikirannya, sosok Yifan muncul di pintu masuk taman. Ia mengenakan jubah berwarna biru muda, melangkah dengan ringan, senyumannya bersinar seperti cahaya pagi, membuat jantung Qianyan berdebar kencang. Langkahnya ringan, seolah merasakan harapan Qianyan.
"Qianyan, selamat pagi!" Suara Yifan seperti angin musim semi, membuat bunga lily yang nakal pun tak bisa menahan diri untuk bergoyang. Ia melambaikan tangan kepada Qianyan, matanya penuh kehangatan.
"Selamat pagi, Yifan!" Qianyan tersenyum kecil dan berjalan mendekatinya. Saat itu, ia seperti bunga mawar yang mekar, memancarkan cahaya yang menawan di bawah sinar matahari.
Mereka berjalan di taman, bunga-bunga yang bermekaran di sekitar mereka berbisik ceria, suasana terasa santai dan menyenangkan. Qianyan kadang-kadang menundukkan kepalanya, mengamati bunga-bunga tersebut, dan menunjuk sebatang violet berwarna-warni, berkata: "Yifan, lihat violet ini, seperti persahabatan kita, berwarna-warni, namun sangat kuat."
Yifan berhenti sejenak, memperhatikan violet tersebut dengan saksama, merenung sejenak, lalu tersenyum dan menjawab: "Ya, meskipun mereka tidak mencolok di lautan bunga ini, mereka tidak pernah menyerah untuk mengejar hak mendapatkan sinar matahari." Mendengar itu, Qianyan merasakan aliran hangat di dalam hatinya, kata-kata itu terasa seperti janji rahasia untuk saling tidak menyerah satu sama lain.
Seiring langkah mereka, Qianyan dan Yifan tiba di area yang dipenuhi bunga-bunga berwarna putih perak, kabut tipis masih menyelimuti, bunga-bunga tersebut tampak seperti mengenakan gaun pernikahan putih, sangat dreamy. Qianyan dengan tenang mengagumi, dan dalam hatinya muncul berbagai pikiran berbeda.
"Bunga-bunga ini mengingatkanku pada cinta," Qianyan berkata pelan. "Meskipun indah, mereka juga perlu dirawat dengan hati-hati, jika tidak, mereka akan layu."
Yifan sedikit tersenyum, matanya memancarkan kasih sayang. Ia mengerti pemahaman Qianyan tentang cinta, tetapi tidak berani mengungkapkan perasaannya dengan langsung. "Bagiku, cinta lebih seperti aliran air, melintasi hidup kita. Jika kita bisa menghargainya, meskipun singkat, itu tetap berharga."
Qianyan menatap ke atas, bertemu tatapan Yifan, dalam sekejap, jiwa mereka seolah saling menyatu. Qianyan merasakan niat Yifan terhadap dirinya, jantungnya berdegup kencang dan pipinya sedikit memerah.
Saat itu, suara tawa keras terdengar di telinga mereka, mengganggu momen indah itu. Ternyata sekelompok pelayan istana datang, membawa karangan bunga dan kebahagiaan, menceritakan kisah dan kebodohan mereka. Qianyan menunduk dengan kecewa, tetapi Yifan dengan lembut menggenggam tangannya, seolah memberitahunya untuk tidak melupakan perasaan saat ini.
"Ayo, mari kita ikut merayakan bersama mereka," Yifan mengusulkan, Qianyan menatapnya dan melihat tekad di matanya, lalu mengangguk. Mereka melambai-lambaikan buket bunga mereka kepada para pelayan itu dan bergabung dalam kegembiraan mereka.
Sinar matahari di sore itu semakin terang, Qianyan dan Yifan mengejar bermain di taman, dipenuhi tawa ceria yang polos. Qianyan tak bisa menahan diri untuk mengingat setiap momen yang ia lewati bersama Yifan, perasaannya semakin menggebu. Di tengah tawa dan keceriaan itu, Qianyan semakin ingin bergantung pada Yifan.
"Qianyan, setiap bunga di sini memiliki cerita. Bisakah kau memberitahuku yang mana yang paling kau suka?" Yifan tiba-tiba bertanya.
"Aku suka bunga matahari," tulus Qianyan menjawab, "karena mereka selalu menghadap ke sinar matahari, seperti harapanku terhadapmu."
Yifan sedikit terkejut, lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Kalau begitu, aku juga suka bunga matahari, karena mereka tumbuh ke arah matahari, selalu memberi harapan." Ia mengusap sebatang bunga matahari yang mekar, di matanya terpantul kelembutan. "Jadi, Qianyan, apapun keadaannya, aku akan selalu ada di sampingmu, menjadi sinar matahari di hatimu."
Hati Qianyan bergetar, saat ini, kata-kata Yifan seolah meninggalkan tanda mendalam di dalam jiwanya. Ia memandang mata Yifan yang bersinar, dipenuhi keberanian, berkata: "Yifan, sebenarnya aku sudah lama ingin memberitahumu, perasaanku terhadapmu..."
Namun, kata-katanya terputus oleh teriakan para pelayan. Mereka datang sambil membawa karangan bunga, baik bercanda atau berkumpul di sekitar mereka, melupakan semua perasaan yang telah terjalin sebelumnya. Qianyan hanya bisa tersenyum pasrah, tetapi perasaannya tetap dalam proses.
Tak lama kemudian, sinar matahari senja menyinari taman, pelangi keemasan yang begitu indah. Qianyan duduk di bangku batu, sementara Yifan berada di sampingnya, dua-duanya menikmati ketenangan dalam cahaya yang memudar. Segala sesuatu terasa sangat tenang, hanya suara detak jantung mereka yang masih jelas terdengar.
"Qianyan, katakan yang sebenarnya, jika suatu hari kita bisa menghadapi semua kesulitan bersama, apa yang akan kau lakukan?" Yifan tiba-tiba berbalik menatapnya, matanya mengandung keseriusan.
Qianyan berpikir sejenak, lalu menjawab: "Aku akan memilih untuk mempercayaimu, apapun kesulitan yang kita hadapi, aku akan selalu di sisimu, karena kau adalah sinar matahariku."
"Kalau begitu, aku juga akan menjadi dukungan yang kuat bagimu, kapanpun dan dimanapun, aku akan selalu melindungimu." Tatapan Yifan seolah terpancar bintang-bintang di langit malam, memberikan Qianyan kehangatan yang tak terlukiskan.
Malam semakin larut, langit berbintang mulai bersinar. Qianyan tiba-tiba teringat percakapan sebelumnya, lalu dengan berani bertanya lagi: "Yifan, hari ini akan ada akhirnya, aku berharap bisa lebih berani, bisakah kau... memberitahuku tentang perasaanmu?"
Yifan tak bisa menahan senyumnya, menatap Qianyan, dalam sekejap, perasaan berat di hatinya akhirnya meledak: "Qianyan, aku sudah mencintaimu sejak lama, segala harapan dan impianku tersimpan dalam senyummu. Bagiku, menemui dirimu adalah hal terbahagia di dunia ini."
Hati Qianyan seolah terjun ke arus deras, dan di telinganya hanya terdengar suara detak jantung. Ia telah melupakan segalanya di sekitarnya, hanya tersisa pengakuan cinta Yifan. Senyumnya tak bisa ditahan, secara perlahan dia mengucapkan: "Aku juga, aku selalu berharap bisa berjalan bersamamu melalui kehidupan yang indah ini."
Jiwa mereka sekali lagi menyatu, sekejap, seluruh taman menjadi semakin indah, bintang-bintang di langit seolah memberkati mereka.
Seiring malam semakin mendalam, cahaya bulan menyinari taman, Qianyan dan Yifan duduk di bangku panjang, sama-sama mengharapkan setiap hari di masa depan. Tawa mereka bergema di bawah langit berbintang, hati masing-masing dipenuhi dengan manisnya harapan.
Waktu seolah berhenti sejenak, hingga fajar kembali tiba. Qianyan menundukkan kepala, dengan lembut bersandar di bahu Yifan, diam-diam bersyukur pada takdir yang mempertemukan mereka. Di bawah langit berbintang yang cerah ini, kisah mereka baru saja dimulai.
