Di pegunungan Himalaya yang terjal, di antara cedar dan lautan awan, saat cahaya pagi mulai memancar, Yu-Zhen berdiri di depan tebing yang curam, menghirup udara dingin yang menyegarkan, masih sulit mempercayai bahwa perjalanan ini telah membawanya ke sini. Sepatu pendaki dan jaketnya dipenuhi noda lumpur, sementara tangan yang kasar namun kuat akibat waktu panjang mendaki. Ranselnya sangat tipis, hanya menyisakan botol air yang diperlukan, sebuah pisau Swiss, notebook tua, dan sebuah lonceng berwarna perunggu yang diwariskan oleh ibunya.
Di Himalaya yang memiliki ribuan puncak dan lembah, kabut menutupi segalanya, setiap jalan setapak terasa seolah telah diatur oleh dewa, tersembunyi dan misterius. Angin di gunung sangat dingin, tetapi bahunya tetap tegak. Dalam petualangan ini, dia tidak hanya berjuang untuk menaklukkan puncak, tetapi juga sangat ingin melepaskan beban dalam hidupnya, agar bisa memulai kembali. Dia sudah memahami bahwa ini bukan sekadar mendaki gunung, tetapi juga pengujian jiwa.
Di pagi hari, sinar matahari menembus celah-celah hutan pinus dan menyinari wajahnya. Dia mengusap lonceng perunggu yang ada di saku. Ini adalah satu-satunya benda yang diberikan ibunya sebelum meninggal. "Jika kau merasa bingung dan tak berdaya, bunyikanlah itu," suara ibunya seolah berbisik lembut di telinganya. Yu-Zhen dengan lembut menggoyangkan lonceng tersebut, suara nyaringnya bergema di lembah. Di kejauhan, salju jatuh, suasana hening, tetapi penuh kehidupan.
Dia tidak sendirian. Gunung ini menyimpan kehidupan yang menakjubkan. Seekor rubah salju yang mengikutinya melompat di samping jalan, matanya yang biru gelap sekali-sekali menatapnya; disertai dengan burung gunung yang selalu bersamanya, yang selalu berkicau ketika ada bahaya. Pagi itu, kabut di gunung menutupi pandangan hingga hampir tidak bisa melihat jalan, Yu-Zhen melangkah hati-hati sambil meraba jalan. Tiba-tiba, suara keras burung memecah keheningan. Dia berhenti, mengencangkan tali ranselnya, dan membungkuk sedikit.
Dari celah batu, seekor monyet salju berbulu merah muncul, mengangkat selembar blueberry seolah mengundang. Yu-Zhen tersenyum lembut, menerima blueberry dan mengeluarkan sepotong buah kering dari ranselnya sebagai ucapan terima kasih. "Namamu siapa?" tanyanya lembut. Monyet itu memberikan tatapan nakal, bersuara beberapa kali, sebelum melompat jauh, meninggalkan jejak ceria.
Yu-Zhen menjilati bibirnya yang pecah-pecah, mengunyah blueberry dan tak dapat tidak mengingat saat-saat memetik buah bersama ibunya di tepi sawah di kampung. Kata-kata ibunya muncul kembali, mengganggu ketenangannya. Ibu pernah berpesan, "Jalan gunung sangat panjang, hati manusia sangat jauh, hanya dirimu sendiri yang bisa menjadi cahaya untuk dirimu." Tapi saat itu dia tidak mengerti, bahkan merasa ibunya hanya ingin dia belajar untuk mandiri; sekarang, dia berada di gunung dan merasakan beratnya kata-kata itu.
Di tengah hari, suhu turun drastis, angin dingin berhembus kencang, jalan setapak menyempit seperti gigi anjing, dan embun es menempel pada batu-batu yang bergerak. Yu-Zhen bergerak perlahan-lahan merayap di sepanjang kaki gunung. Telapak tangannya sudah mati rasa, setiap langkah membutuhkan kehendak yang besar. Ketika akhirnya dia mencapai sebuah platform, kakinya terpeleset dan lututnya tersakiti; dia tertegun, terengah-engah. Saat itu, dia tidak dapat menahan diri untuk tidak mengutuk kebodohan dan keras kepalanya. Namun, gema di lembah membawa suaranya jauh, seolah suara itu ditangkap oleh puncak-puncak salju tersebut.
Dia menunduk dan melihat salah satu tali ranselnya terlepas, barang-barangnya hampir jatuh. Dia berlutut dan memeriksa setiap benda dengan hati-hati. Notebooknya terkena sedikit air salju, tinta mengembang menjadi noda. "Aku harus belajar melepaskan." Kalimat itu ditulis dengan tegas di halaman depan. Di dadanya, ketidakpuasan dan rasa tidak ikhlas memenuhi—dia ingin melepaskan kemarahan atas kepergian ayahnya, ingin memutuskan rasa kesepian yang bertahun-tahun, tetapi setiap malam saat memikirkan masa lalu, hatinya terasa seperti tertusuk es dingin.
Saat itu, suara langkah kaki yang lemah terdengar dari kejauhan. Dia mengangkat kepala dan melihat sosok tinggi kurus mendekat di dalam kabut. Orang itu mengenakan jubah wol abu-abu gelap dan mengenakan topi berbulu, wajahnya tidak terlihat jelas. Suara langkah kakinya semakin dekat, dengan ketenangan yang jelas. Yu-Zhen secara naluriah menyembunyikan lonceng perunggu di bawah leher baju, hati-hatinya berwaspada, tetapi bertanya dengan nada tenang, "Dari mana kau datang?"
Orang itu berhenti, suaranya secerah jarum pinus di salju, "Namaku Wei-Mo, datang dari lembah di balik awan. Apakah kau datang untuk mencari jati diri, atau untuk menghindari dunia?" Mata biru kelabu yang unik itu bersinar cerah dan dalam, membuat Yu-Zhen merasa tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Yu-Zhen menggigit bibir bawahnya dan menjawab, "Aku hanya ingin melepaskan belenggu di hatiku. Selama ini, aku membawa terlalu banyak kenangan, hampir tidak bisa bernapas." Wei-Mo mengangguk sedikit dan tersenyum, "Di gunung tinggi, seseorang pasti akan melihat bagian diri yang berbeda. Mari ikuti aku sebentar, aku memiliki tempat untuk beristirahat."
Yu-Zhen ragu sejenak, tetapi tubuh dan jiwanya merasa lelah, jadi dia mengangguk. Wei-Mo membawanya menyusuri jalan kecil yang tersembunyi, udara di antara pepohonan membawa aroma cemara. Pembicaraan mereka sangat sedikit, sesekali ada dialog. Wei-Mo bertanya, "Mengapa kau memilih untuk melepaskan?" Yu-Zhen terdiam sejenak, hanya membuka notebook dan menyerahkannya pada Wei-Mo, “Karena aku tidak suka tidak dipahami, dan tidak ingin masa lalu mengikat masa depan."
Wei-Mo melihat halaman itu, hanya menemukan beberapa kalimat singkat: "Dunia ini terlalu besar, aku terlalu kecil. Hanya dengan belajar melepaskan, kita bisa bebas." Dia menutup notebook dengan hening dan mengembalikannya kepada Yu-Zhen. Mereka melanjutkan perjalanan, sesekali salju runtuh di atas gunung, suara air terjun terdengar lembut dari kejauhan. Mereka bersembunyi di sebuah gubuk yang tersembunyi di bawah batu gunung, menyalakan api unggun, dan nyala api menjilati kayu kering, mengeluarkan suara kayu yang menenangkan.
Yu-Zhen bersandar pada dinding batu, membuka botol air dan meminum sedikit, lalu menyerahkannya kepada Wei-Mo. Wei-Mo menerimanya, matanya sejenak terfokus pada lonceng perungunya, "Suara lonceng ini sangat indah." Yu-Zhen mendekatkannya sedikit untuk ditunjukkan, "Ini adalah warisan dari ibuku, dia bilang bisa membawa pergi kegelapan di hatiku."
Di bawah cahaya api unggun, Wei-Mo tiba-tiba bertanya, "Kau pikir, apa itu sebenarnya melepaskan?" Pertanyaan itu membuat Yu-Zhen tertegun. Dia teringat berbagai peristiwa masa lalu, berjuang sejenak, baru kemudian berkata perlahan, "Mungkin, aku bisa menghadapi masa lalu dengan tenang, alih-alih menghindari. Bisa menghadapi setiap bagian diriku yang lemah dan bersedia percaya bahwa dunia masih memiliki cahaya."
Wei-Mo menatapnya serius, “Beberapa hal yang tersimpan dalam ingatan adalah kekuatan kita, tidak perlu secara sengaja melupakan, hanya perlu belajar hidup di masa kini.” Setelah itu, dia mengeluarkan dari jubah tebalnya sebuah ukiran kayu serigala salju yang indah dan menyerahkannya kepada Yu-Zhen, “Ini adalah benda yang aku miliki, menjadi harapanku saat menjelajahi hutan. Kau bisa menukarnya dengan lonceng ini, kita saling menjaga satu sama lain.”
Yu-Zhen tertegun, ragu sejenak, tetapi kemudian tersenyum dan mengangguk, dengan lembut menyerahkan lonceng perunggu ibunya ke tangan Wei-Mo. "Semoga ia menemanmu melewati malam yang gelap, mungkin kau juga akan merasa kesepian." Wei-Mo mengangguk dan menggantungkan ukiran serigala kecil di sisi ransel Yu-Zhen, seolah memberinya sayap baru.
Malam semakin dalam, cahaya lembut api unggun menyelimuti keduanya. Mendengarkan suara hewan sesekali di salju dan langkah ringan burung kembali ke sarangnya, Yu-Zhen mencatat setiap detil dari perjalanan di bawah cahaya api. Tulisan tangannya semakin lembut seiring dengan pikirannya:
“Belajar melepaskan bukan hanya membuang barang, tetapi juga berani berdialog dengan diri sendiri. Gunung tenang dan megah, jiwa seputih salju. Selama bersedia melihat diri sendiri, apapun yang terjadi di masa lalu, cahaya akan selalu menunjukkan jalan ke depan.”
Di pagi hari berikutnya, mereka berjalan berdampingan menuju puncak salju yang lebih tinggi. Angin dan salju lebih hebat daripada malam sebelumnya, tetapi Yu-Zhen merasakan keberanian yang besar di dalam hatinya. Di tengah perjalanan, dia melihat monyet salju kecil itu mengikuti lagi, dengan beberapa buah segar di mulutnya, bersuara aneh dan melompat-lompat, seolah merayakan sesuatu.
"Sepertinya kau memiliki teman baru." Wei-Mo tersenyum hangat. Yu-Zhen melihat monyet salju itu dan juga tersenyum. "Setiap kali mendaki satu puncak, berarti mengenal satu bagian diri yang baru."
Ketika mereka sampai di sebuah batu besar, Wei-Mo berhenti, wajahnya serius dan berkata, "Ini adalah Gerbang Tiga Dunia, konon semua pengembara yang mencarinya, akan meninggalkan kenangan yang tidak bisa mereka lepaskan di sini." Di atas batu itu terukir pola kuno, saat salju dan angin menghantam, seolah-olah menyanyikan lagu lembut.
Yu-Zhen merobek selembar dari notebooknya, menulis, "Aku ingin melepaskan kesedihan atas kepergian ibuku, mengingat kekuatan yang dia ajarkan padaku." Dia menempelkan kertas itu di batu, berusaha menempelkan pada celah. Wei-Mo membunyikan lonceng perungunya pada batu, dan suara jernih menggema di lembah, bergema hingga ke luar lautan awan.
Saat itu, Yu-Zhen menutup matanya, hatinya merasa jernih. Suara lembut ibunya seolah kembali berbisik di telinganya, dan di dalam hatinya, dia berjanji pada ibunya bahwa dia akan melangkah dengan keberanian dan cinta. Batu itu tampaknya memiliki jiwa, dengan lembut memancarkan cahaya hangat, menghangatkan seluruh lembah.
“Terima kasih, Wei-Mo,” kata Yu-Zhen lembut. Wei-Mo menepuk bahunya, “Kita semua adalah pengembara. Hanya dengan terus melepaskan, kita bisa menyambut pemandangan yang lebih indah.”
Cahaya semakin terang, sinar matahari akhirnya menembus awan tebal, memberikan lapisan emas di bumi. Yu-Zhen mengangkat ranselnya, terasa ringan seolah seperti bulu. Saat tiba di puncak gunung, dia melihat ke belakang ke jalan setapak yang berkelok-kelok di bawahnya. Di sana, adalah dirinya yang lama, serta titik awal yang baru untuk masa depannya.
Dia menghirup dalam-dalam udara dingin bersalju, kemudian menunduk melihat ukiran serigala kecil di luar ranselnya, yang bergetar lembut di angin pagi. Angin membawa suara lonceng perunggu ke langit, di kejauhan rubah salju mendongak mendengarkan, burung-burung gunung mengepakkan sayapnya terbang jauh, dan dunia terbentang tanpa batas dalam cahaya salju.
Yu-Zhen merasakan ketenangan yang belum pernah ada sebelumnya, dan berharap sebuah cerita baru yang sepenuhnya miliknya dapat mekar di puncak salju yang megah. Dia percaya, petualangan ini dan perjalanan melepaskan akan menjadi keberanian terlembut dari jiwanya, mengalir perlahan ke setiap hari esok yang tak terduga.
