Fajar baru terbit, sinar emas matahari menyinari seperti kain tipis di antara pegunungan dunia dewa di timur. Langit di sini dihiasi oleh awan yang mengalir dan birunya yang cerah, lautan awan berlapis-lapis seperti selimut yang ditata oleh dewa-dewa, bergetar lembut. Kabut berputar di antara cahaya fajar dan pegunungan, memancarkan suasana misterius dan megah. Pada hari itu, di antara jalan kuno dunia dewa, angin mengangkat kelopak bunga, menciptakan jalan menyambut angin untuk sepasang saudara.
Sufis dan adiknya Tian Ying, mengenakan jubah panjang bergaya Romawi kuno, melayang anggun, berhenti sejenak di tepi tebing awan. Di depan mereka terdapat reruntuhan kuno yang ditutupi lumut dan kelopak bunga bercahaya. Rambut keriting cokelat muda Sufis bergetar lembut oleh angin pagi, sementara di wajahnya terpancar harapan dan kehati-hatian terhadap yang tak diketahui. Di sisi lain, Tian Ying memiliki mata yang tenang seperti air, selalu mampu memberikan dukungan yang tegas saat Sufis merasa ragu.
"Saudaraku, apakah ini tempat mistis yang disebut kakek?" Tian Ying mengikat seikat panjang rambutnya di belakang telinga, berbisik pelan.
Sufis memandang pintu batu yang diukir dengan simbol aneh di depan mereka, menyentuh dengan lembut tepi reruntuhan, "Hmm... ukiran ini sama persis dengan totem di dalam koleksi keluarga kita. Tian Ying, kita mungkin akan mengungkap rahasia nenek moyang kita!"
Keduanya berdiri berdampingan, melangkah perlahan ke dalam pintu berbatu yang misterius. Daun pintu secara otomatis menutup mengikuti angin, seolah-olah ada semangat yang telah diam-diam menerima mereka ke dalam dunia yang hilang ini. Begitu mereka memasuki, cahaya biru yang samar menerangi dinding, membuat Sufis dan Tian Ying terkagum-kagum.
"Saudaraku, lihat di dinding itu, ada relief..." Tian Ying menunjuk ke salah satu sisi. Di ukiran tampak tiga orang bijak memegang tongkat berdiri di atas awan, di bawahnya ada sepasang remaja yang saling bergandeng tangan melewati kabut hutan.
Sufis mengamati relief dengan seksama, mengeluarkan sepotong batu giok biru warisan keluarga dari saku. Ia menyentuhkan batu giok itu ke dinding, dan tiba-tiba seluruh permukaan dinding memancarkan riak, totem secara perlahan berkumpul membentuk sebuah pesan bercahaya: "Lautan awan dan tangga giok, cari jejak jalan surga. Hati yang terhubung, barulah dapat menyaksikan kebenaran."
Tian Ying menengadah membaca tulisan itu, suaranya penuh rasa hormat: "Saudaraku, mungkin kita harus bersatu hati agar dapat mengungkap ujian harta karun yang misterius ini."
Sufis menatap adiknya dengan tatapan semakin mantap: "Kau tidak perlu khawatir, apapun risiko yang kita hadapi, kita akan maju bersama."
Keduanya perlahan-lahan melangkah ke dalam lorong yang dalam. Di dalam lorong, tiang batu berdiri seperti pohon raksasa, menjulang tinggi di bawah kubah bulat, udara dipenuhi dengan kekuatan aneh yang telah terbangun selama ribuan tahun. Sepanjang jalan, Tian Ying dengan hati-hati menyentuh setiap simbol kuno dengan jari-jemarinya, merasakan aliran hangat yang terkandung dalam rune.
Tiba-tiba, ada asap debu yang muncul, di ujung lorong, sebuah gerbang cahaya emas samar mulai terlihat. Sufis berjalan ke depan gerbang cahaya, wajahnya menunjukkan keraguan: "Gerbang ini... sepertinya harus dibuka dengan cara tertentu."
Tian Ying menunduk, seolah sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba dia memiliki ide cemerlang: "Saudaraku, apakah kau ingat puisi yang diajarkan kakek kepada kita? Apakah itu sesuai dengan mekanisme di sini?"
Mata Sufis berbinar, dan bersama-sama dengan Tian Ying mereka menyanyikan: "Langit awan langkah demi langkah, air mengalir perlahan mendengarkan. Hati tulus maka jalan akan terbuka, saudara selamanya bersatu hati."
Begitu puisi itu terucap, gerbang cahaya segera bersinar dengan sinar halus, dan di atasnya muncul bayangan relief sepasang saudara. Mereka bertukar tatapan yang tegas, lalu bersama-sama meletakkan telapak tangan mereka di atas gambar itu.
Mereka mendengar suara lembut, cahaya emas meresap, dan daun pintu terbuka tanpa suara. Begitu melangkah masuk, mereka menemukan ruang harta yang besar, dikelilingi oleh lautan awan yang berkilau, di tengahnya ada papan catur berbentuk naga yang bersinar dengan cahaya misterius.
Tian Ying mendekati papan catur dan menemukan bidak-bidaknya sudah berserakan. "Saudaraku, bagaimana menurutmu kita harus mengatur bidak-bidak ini?"
Sufis mengamati setiap bidak giok dengan seksama, tiba-tiba teringat catatan dalam buku sejarah keluarga tentang permainan naga: "Konon, hanya dengan bekerja sama, menempatkan hati kita pada permainan secara bersamaan, jalur naga akan muncul."
Ia memberikan separuh bidak kepada Tian Ying: "Mari bersama kita atur bidak, saling percaya, dan mencoba untuk melakukan setiap langkah bersama-sama."
Maka, saudara-saudara itu membungkuk di sisi papan catur. Tiap kali Sufis menggerakkan sebuah bidak, Tian Ying akan menggerakkan bidak lainnya sesuai dengan gerakan saudaranya, langkah demi langkah memanfaatkan strategi. Dengan resonansi ketenangan di dalam pikiran, hati mereka secara bertahap menyatu. Setiap kali langkah selesai, bidak merasa mengeluarkan cahaya redup, bayangan naga di tengah papan juga mulai bergerak.
Seiring permainan mencapai puncaknya, permukaan papan mulai memunculkan pola emas samar. Ketika langkah terakhir hampir jatuh, tiba-tiba, seluruh ruang harta bergetar hebat! Sufis yang sudah waspada, merangkul Tian Ying, melindunginya dengan hati-hati.
"Jangan takut, Tian Ying, ini adalah ujian yang dimulai." Sufis menenangkan adiknya dengan suara yang tegas.
Lihatlah, awan mengalir semakin deras, di tengah harta itu muncul seekor naga transparan. Kepala naga terangkat tinggi, suaranya seperti petir: "Bisakah kalian menjaga kasih saudara sampai akhir?"
Tian Ying menengadah, suaranya tidak goyah: "Hanya dengan berjalan bersama, barulah kita tidak mengkhianati janji keluarga yang kita jaga."
Sufis menggenggam tangan adiknya erat-erat, mengangguk dengan dalam: "Apapun tantangannya, kita akan sama-sama melewatinya."
Bayangan naga itu tersenyum, matanya seolah menunjukkan kekaguman, dan bertanya dengan lebih berat: "Jika takdir berpisah, bisakah kalian tetap memegang keyakinan?"
Tian Ying dan Sufis saling memandang sejenak, kemudian keduanya menghadapi satu sama lain dengan senyuman tegas. Sufis perlahan berkata: "Apapun yang terjadi di dunia ini, Tian Ying akan selalu menjadi yang terpenting bagiku. Selama kita mau saling memahami, tidak ada yang bisa memisahkan kita."
Tian Ying menambahkan dengan lembut: "Seperti fajar dan malam yang silih berganti, meskipun arahnya berbeda, mereka akan bertemu di lautan awan."
Naga transparan mengangguk, mengeluarkan suara nyaring, dan berubah menjadi kabut yang menyatu dengan awan. Seluruh ruang harta seketika dipenuhi dengan awan megah yang menakjubkan, dan sebuah bola permata merah cerah muncul di tengah papan.
Sufis dan Tian Ying secara bersamaan mempersembahkan batu giok biru, dan permata itu dengan perlahan melayang ke dalam batu, kedua cahaya saling berpadu menyatu dalam satu warna, sekejap mata, pemandangan di depan saudara-saudara tersebut berubah drastis.
Mereka tiba di sebuah taman ajaib yang melayang di angkasa. Di antara lautan awan, koridor udara yang tinggi dan berkelok-kelok, dikelilingi oleh bunga-bunga indah dan tumbuhan mistis. Aroma manis bunga memenuhi udara. Suara air mengalir terdengar, seolah memuji keberanian saudara-saudara dalam melewati ujian.
"Tempat ini sangat indah..." Tian Ying mengagumi, matanya dipantulkan oleh puluhan kupu-kupu dongeng dengan sayap yang berwarna-warni.
Sufis tersenyum lembut: "Mungkin ini tempat yang ingin nenek moyang kita tunjukkan pada kita. Lihat, di sana ada sebuah altar."
Di atas altar terhias ukiran awan yang indah dan di tengahnya terdapat sebuah buku kuno bersampul emas. Sufis dengan hormat membuka buku kuno tersebut dan melihat di dalamnya tertulis berbagai rahasia tentang dunia dewa dan asal-usul keluarga:
"Saudara yang bersatu, dapat menarik jalur langit, hanya kasih yang tulus, dapat bebas berjalan di antara sisa-sisa awan."
Semua ini membuat saudara-saudara itu sangat menyadari, bahwa petualangan hari ini bukan hanya untuk kekayaan, melainkan lebih pada pengakuan akan kepercayaan satu sama lain. Tian Ying menggenggam tangan Sufis di samping altar, matanya bersinar: "Saudaraku, saya rasa tidak ada kesulitan yang lebih penting daripada kita berjalan bersama."
Sufis dengan lembut membelai punggung tangannya, hatinya dipenuhi dengan kehangatan yang tak bisa diungkapkan: "Tian Ying, selama kita saling bergantung satu sama lain, kita akan dapat mengatasi semua kabut dan ujian."
Saat keduanya sedang terhanyut dalam perasaan saling pengertian, kabut di sisi taman perlahan menghilang, menunjukkan sebuah jembatan awan yang menuju dunia luar. Suara familiar dari seorang bijak yang jauh terdengar, seperti angin lembut yang mengusap dahan:
"Jalan pulang masih menunggu kalian untuk dilalui."
Sufis menggenggam lengan Tian Ying, melangkah ke atas jembatan melayang itu. Mereka terus berjalan, awan dan kabut di bawah kaki mereka bergerak, seolah masing-masing langkah mengukir hubungan saudara di dalam sejarah dunia para dewa.
Setelah berjalan setengah jalan, Tian Ying tiba-tiba berhenti, tampak bingung: "Saudaraku, kita telah mendapatkan permata dan menyaksikan rahasia keluarga, tidakkah kita harus membagikan kekuatan ini dengan saudara-saudara yang lain?"
Sufis berpikir sejenak, kemudian tersenyum menjelaskan: "Apa yang kita alami bukan hanya tentang perolehan materi, tetapi juga tentang pertumbuhan dan inspirasi jiwa. Jika mereka mau, mereka juga bisa menemukan jawabannya sendiri."
Tian Ying menatap dengan penuh harapan, melihat cahaya yang melintas di langit. Sufis secara lembut menggenggam tangannya, tatapannya penuh harapan: "Ke depan, masih banyak petualangan yang menunggu kita. Kita harus berani bersama, menuju setiap fajar."
Di atas jembatan awan yang terlihat samar, Sufis dan Tian Ying melangkah pergi bergandeng tangan. Mereka melangkah di atas cahaya pagi yang berkilau, mengenakan pakaian anggun yang melayang, bagaikan dua titik percikan bintang yang bersinar, mengubah kepercayaan dan keberanian satu sama lain menjadi legenda yang takkan pernah pudar, mengalir tenang di antara lautan awan dunia dewa di timur.
