Mata Xi Yuan berkilau dengan cahaya redup di embun pagi yang tipis. Dia mengenakan jubah tradisional berwarna biru tua, ujung jubahnya menyapu jalan setapak yang ditutupi lumut, embun pagi membasahi ujung pakaiannya. Dia memegang erat sebuah gulungan kulit binatang yang sudah menguning, langkahnya sesekali berhenti dan ragu-ragu di antara dinding batu candi Angkor yang berwarna-warni dan kuno. Kabut abu-abu seperti tirai yang memisahkan suara dari jauh, hanya menyisakan bayangan pahatan batu yang berderak di sekelilingnya.
Di luar gerbang candi, tanaman merambat menggantung, sinar matahari belum menembus kabut, cahaya perak samar menyirami pohon cedar kuno dan dinding yang hancur. Sehelai angin lembut membawa aroma bunga dari hutan jauh ke arah Xi Yuan, membuatnya tak bisa menahan untuk menghirup dalam-dalam. Pada saat itu, bayangan pohon yang lemah bergetar di dinding lumut, semua suara tampak dihentikan. Hati Xi Yuan bergejolak, setiap langkahnya mengingatkan dirinya bahwa petualangan hari ini akan menentukan segalanya.
Kabut pagi di Angkor banyak menghasilkan ilusi, sesuatu yang sudah sering didengar Xi Yuan. Sejak kecil, ia mendengar cerita ayahnya tentang makhluk mitologis, dan berulang kali di malam-malam tenang, ia membisikkan cerita tentang monster di kabut dan dewa di bawah pohon. Dan hari ini, dia ingin memasuki inti legenda ini secara langsung, mencari jawaban untuk teka-teki yang sudah berputar lama dalam dirinya. Tatapan ragu-ragunya samar terpantul di patung hewan mitologi yang setengah hancur di dinding batu, itulah kebingungan terdalam di hatinya—apakah legenda ini benar-benar nyata, atau hanya lelucon orang tua?
Saat ia fokus merenungkan itu, dua patung binatang yang tidak biasa di sudut samar-samar bergetar. Tidak jauh, sepasang telinga harimau yang ramping muncul dari semak belukar lebat, bola matanya yang kuning pucat menatap Xi Yuan dengan tenang. Dalam sekejap, roh harimau yang megah muncul dari patung binatang, melangkah dengan langkah yang tak bersuara mendekatinya. Ia berhenti, berdiri tegak di depan Xi Yuan. Jantung Xi Yuan berdegup cepat, setiap tetes embun pagi seakan memukul sarafnya. Ia melihat dengan waspada pada roh harimau itu, tidak ada sinar berbahaya di matanya, malah bersinar lembut penuh rasa ingin tahu. Ia menahan getaran di hatinya, melakukan penghormatan tradisional, dan berkata pelan:
"Makhluk yang terhormat, jika kau berkenan, berikanlah aku petunjuk, aku memiliki tugas yang berat di pundakku."
Roh harimau itu menghirup lengan jubah Xi Yuan, napas lembutnya menyentuhnya, lalu ia mulai berbicara pelan: "Jawaban legenda hanya milik mereka yang benar-benar mau mendengarkan suara hati. Mengapa kau datang?"
Suara yang aneh ini lembut dan dalam, seolah melintasi ruang dan waktu. Xi Yuan menggigit bibirnya, mengangkat gulungan kulit binatang di tangannya, dengan suara yang jelas dan tulus berkata: "Aku ingin tahu, apakah makhluk mitologis ini hanya cerita, atau benar-benar ada di tanah ini? Desaku baru-baru ini dilanda bencana, semua orang menyalahkan hilangnya dewa di kuil. Aku datang untuk mencari satu jawaban, serta memberikan penjelasan kepada rakyatku."
Roh harimau itu memandang sekeliling kabut pagi, matanya jauh. "Kepercayaan dan kebenaran seperti kabut yang berputar, hanya hati yang paling murni yang bisa menembusnya. Jika ingin memahami segalanya, kau harus belajar untuk menunggu."
Setelah berkata demikian, roh harimau berbalik dan melangkah ke dalam celah batu yang samar. Xi Yuan ragu sejenak, tetapi akhirnya menekan rasa takut di hatinya dan mengikuti. Setelah masuk ke celah batu, ternyata bukan kegelapan yang diharapkan, melainkan seolah melangkah ke dunia lain.
Di depan, ia menemukan danau teratai yang luas dengan air jernih, seolah melayang di antara kabut pagi. Permukaan kolam berkilauan, daun teratai bergoyang perlahan mengikuti gelombang, warnanya hijau tua hampir transparan. Di batu platform di tengah kolam teratai, duduklah satu lagi makhluk mitologis—dewi empat tangan, Miga, setiap tangannya menjunjung benda-benda keberuntungan yang berbeda. Dewi membuka matanya yang bening seperti air dan suaranya lembut namun berwibawa.
"Pengembara muda, pertanyaanmu membawa badai dan ketenangan. Gulungan kulit binatang yang kau bawa, berasal dari kami. Cerita desamu sebenarnya adalah gema dari sumpah kuno."
Xi Yuan berlutut, dengan hormat bertanya: "Dewi, bagaimana aku dapat membuat desaku kembali damai? Jika bencana itu benar berasal dari hilangnya dewa, apa yang harus aku lakukan?"
Miga menunjuk ke bayangan yang dipantulkan di kolam, permukaan kolam memperlihatkan kesulitan desa: sumur yang kering, padi yang layu, anak-anak yang terbaring sakit. Xi Yuan tak bisa menahan diri untuk menggigit bibirnya, air mata menggenang di pelupuk matanya. Dewi itu berbicara lembut: "Di dunia ini tidak ada jawaban yang sederhana. Kau perlu memimpin warga desa untuk menemukan kembali kepercayaan yang hilang, bukan hanya bergantung pada berkah dewa. Kebenaran selalu tersembunyi di dalam hati manusia."
"Apa yang harus aku mulai?" Xi Yuan bertanya gemetar.
Miga lembut mengusap teratai, memberikan tiga petal bunga ke telapak tangan Xi Yuan. "Kepercayaan, keberanian, dan refleksi—bawalah tiga kualitas ini kembali kepada rakyatmu. Ajaklah mereka bekerja sama, memperbaiki desa, menyembuhkan penyakit, dan mengairi ladang. Jika kita saling percaya dan bekerja sama, kita bisa mengundang perhatian dewa lagi."
Setelah mendengar itu, Xi Yuan memegang erat petal bunga, penuh semangat. Ia mengangkat kepala memandang dewi lagi, ingin menanyakan bagaimana membuktikan bahwa makhluk mitologis itu benar-benar ada. Namun, dewi itu telah berubah menjadi angin pagi, kabut di sekitar kolam mulai berputar, dan pemandangan menghilang seperti ilusi. Roh harimau muncul lagi di sampingnya, berkata pelan: "Mitos yang sebenarnya selalu ada di dalam keinginan paling tulus di dalam setiap hati."
Kabut pagi perlahan menghilang, Xi Yuan menemukan dirinya kembali di luar koridor utama candi Angkor, bayangannya terpampang di dinding batu sambil memegang petal teratai. Meskipun semuanya terasa seperti mimpi, tatapan dingin dari tiga petal teratai yang jernih di tangannya mengingatkannya bahwa semua itu benar-benar terjadi.
Xi Yuan cepat-cepat meninggalkan dinding yang hancur, berlari sepanjang koridor candi menuju desa. Sepanjang jalan, cahaya pagi perlahan-lahan menembus kabut, suara burung mulai berkicau, malam sudah sepenuhnya pergi. Ia berlari melalui jalan setapak yang dikelilingi bayangan pohon, hatinya penuh harapan.
Saat dinding desa yang rendah dan ladang padi muncul dalam pandangannya, ia berhenti sejenak untuk bernapas, tetapi tidak ragu melangkah ke alun-alun pusat. Warga desa berkumpul di sebelah sumur tua yang kering, wajah mereka penuh dengan kecemasan dan ketidakberdayaan. Elders desa, Wei Yun, sedang menenangkan mereka, menceritakan kisah-kisah doa leluhur. Xi Yuan memegang petal bunga, melangkah maju menuju kerumunan.
"Semua, dengarkan aku! Aku telah melihat Dewi Teratai di Angkor, dia membuat kita mengerti bahwa penyelamatan membutuhkan usaha bersama." Xi Yuan meningkatkan suara, berusaha agar setiap orang mendengarkan kata-katanya.
Warga desa setengah percaya setengah tidak, beberapa bertanya: "Apa yang bisa kau lakukan sendiri? Apa yang bisa kami ubah?"
Xi Yuan dengan serius menunjukkan petal teratai kepada mereka. "Ini adalah tanda dari dewi, bukan hanya simbol mukjizat, tetapi juga bukti keberanian dan kepercayaan. Dewi berkata, selama kita bersatu dan berusaha, kita dapat membuat desa ini makmur kembali."
Sebuah cahaya spiritual menyinari langit pagi, jatuh di pundak Xi Yuan. Wei Yun memperhatikan petal itu dengan seksama, menemukan uang kecil garis emas pada petal, bersinar di bawah sinar pagi. Dia berkata lembut: "Jika kau memiliki petal mukjizat ini, maka kami akan mencoba mengikuti di belakangmu."
Segera, Xi Yuan mulai bertindak, pertama mengumpulkan pemuda desa untuk memperbaiki saluran air yang rusak. Ia sendiri menggulung lengan jubahnya, memimpin untuk membuka saluran air yang tersumbat, telapak tangannya cepat mengelupas, tetapi ia menggigit gigi dan tidak menyerah. Para wanita juga terinspirasi olehnya, dengan hati-hati mengumpulkan bulir padi dan membentuk tim obat herbal untuk membantu merawat yang sakit.
Setiap hari sebelum matahari terbit, Xi Yuan selalu mengunjungi ladang, mengamati setiap tanaman yang tumbuh. Jika menemukan tanaman yang layu, ia akan berkonsultasi dengan para tetua tentang cara mengairi dan membajaki. Anak-anak di desa juga dengan sukarela membantu membersihkan lumpur di sumur, mengubah waktu bermain mereka menjadi lagu kerja sama. Xi Yuan menemani mereka, menggantungkan ember di tali, berulang kali mengangkat air bersih dari sumur kembali ke desa.
Warga desa berkumpul setiap hari di kuil, menyalakan dupa dan berdoa. Xi Yuan dengan lembut meletakkan tiga petal bunga di tengah altar kuil, dan berkata kepada semua: "Kita harus melanjutkan persatuan dan kepercayaan ini, bukan hanya sembah pada dewa tetapi saling membantu."
Hari-hari berlalu, ladang yang kering lambat laun tergantikan dengan hijau yang baru, suara tawa di desa semakin banyak. Seorang anak sakit yang dulunya terbaring di tempat tidur mulai pulih, ibunya memeluk Xi Yuan dengan air mata di matanya, terisak: "Ini adalah usaha semua orang dan juga doronganmu yang menyelamatkan kami."
Xi Yuan saat itu benar-benar memahami beratnya kata-kata sang dewi. Ia kembali ke Angkor dengan membawa petal yang kini sudah transparan, dan dengan tulus memberi hormat di bawah sinar pagi. "Dewa, akhirnya aku mengerti, keajaiban sejati datang dari kepercayaan dan harapan di dalam hati kita masing-masing."
Kabut lembut mengangkat ujung jubahnya, patung singa batu di jauh seolah bergerak sedikit, seakan memberi hormat. Xi Yuan dengan dalam meluruhkan tubuhnya, lalu perlahan-lahan keluar dari pintu batu yang hancur, melihat langit semakin cerah, segala sesuatu tampak segar dan bersemangat. Sejak hari itu, cerita tentang Xi Yuan sering diceritakan di desa—seorang pemuda yang benar-benar mengubah mitos menjadi kenyataan, dan seorang pahlawan yang memimpin orang-orang mencari kembali harapan dan kepercayaan.
Akhirnya, di dalam kabut pagi Angkor, sosok Xi Yuan selalu muncul di antara reruntuhan, berdampingan dengan makhluk mitologis, menjaga dengan tenang kesucian dan mimpi dari tanah ini.
