Di dalam kedalaman laut yang gelap dan misterius, air berwarna biru cerah yang sulit dijelaskan dengan kata-kata manusia membentang di sekeliling. Jauh dari daratan dan jejak manusia, ada sebuah jurang yang sunyi seolah-olah malam selamanya, dan di sinilah cerita Ji Heng perlahan dimulai.
Ji Heng bukan bagian dari lautan; rumahnya berada di sebuah desa nelayan kecil yang tenang dan indah di tepi pantai yang jauh. Berbeda dari sebagian besar teman sebayanya, Ji Heng menyimpan kecintaannya pada laut jauh di dalam hatinya, mendengarkan kakeknya menceritakan mitos dan legenda tentang lautan dalam sejak kecil. Mimpinya bukan untuk menjadi nelayan biasa, tetapi untuk menjadi penjelajah, mengungkap rahasia yang tersembunyi di dasar laut. Suatu pagi, dengan perlengkapan selam yang ia buat sendiri, ia pergi diam-diam meninggalkan desa menuju perahu kayu kecil di tebing, memutuskan untuk pergi sendirian ke jurang lautan dalam yang legendaris.
Dengan tenang melintasi permukaan laut yang berkabut pagi, Ji Heng menggenggam pendayung, jantungnya berdebar di dalam dadanya. Ia tahu ia tengah menghadapi risiko yang sangat besar; perairan ini jauh lebih berbahaya daripada yang diperingatkan oleh para lelaki dewasa di desanya. Tetapi di dalam hatinya, ada suara yang kuat mendesaknya: “Kamu harus melihat biru dalam yang tak terlukiskan itu.”
Ketika sinar matahari pertama menembus awan tipis dan jatuh ke permukaan air, Ji Heng sudah berdiri di tengah lautan yang biru yang luas. Ia mengenakan pakaian selam, memasang masker selam dan tabung pernapasan, menyalakan alat pendorong bawah laut yang dijaga dengan hati-hati, lalu mengambil napas dalam-dalam dan terjun ke dalam air.
Dunia di bawah sinar matahari bersinar dengan warna emas yang berkilauan, tetapi saat ia menyelam lebih dalam, cahaya mulai memudar, warna air menjadi lebih gelap dan lebih tebal, hingga hanya tersisa biru dan hitam yang sepi. Ji Heng mencapai tepi jurang, merasakan tekanan yang bulat dan dalam mengelilinginya. Ia berusaha mengatur napas, hatinya merasa cemas dan bersemangat, dan dengan senter ia menyinari ke depan—itu adalah jurang biru gelap yang mengagumkan.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah bayangan melintas sejenak di sinar senter. Mata Ji Heng berbinar, ia menstabilkan napasnya dan perlahan bergerak ke arah itu. Bayangan itu muncul kembali, kali ini diam-diam mengelilingi di dekatnya.
Di kedalaman biru, sebuah sosok ramping dan datar muncul, sirip yang tipis seperti sayap melambai dengan anggun. Itu adalah ikan pari—lebih besar dan lebih misterius daripada ikan pari yang biasa ia lihat, dengan warna biru muda yang bening di seluruh tubuhnya.
Ji Heng dengan hati-hati mengangkat tangannya, sambil berbisik lembut (meskipun suaranya tidak bisa terdengar di bawah air), memancarkan cahaya lembut dari senter. “Halo, teman misterius… Aku Ji Heng, dari desa nelayan di tepi laut.” Ikan pari tampaknya tertarik dengan lembut, perlahan mendekat.
Tatapan ikan pari itu lembut dan terbuka, ia mengayunkan sirip lebar menuju Ji Heng. Hidungnya menyentuh lembut jari Ji Heng, dan seberkas cahaya biru yang tampak seperti senyuman melingkupi mereka berdua. Nama ikan pari itu adalah “Cheng Ying”, ia adalah penjaga paling jujur di perairan ini. Konon ia tidak pernah menipu makhluk hidup manapun, bahkan sebutir kepiting yang paling kecil.
Sirip Cheng Ying yang bersinar dengan cahaya lembut sedikit terbuka di depan Ji Heng. Ia membawa Ji Heng melewati labirin batu dan terumbu karang, mendalami celah gelap. Ji Heng merasakan ekspektasi yang tak terlukiskan, ia mengikuti Cheng Ying dengan hati-hati, berkomunikasi dengan bahasa tanpa suara.
Di tengah jalan, ada sebuah dinding batu besar di depan mereka. Cheng Ying mengayunkan ekornya ke celah batu, mengeluarkan suara dengungan lembut seolah meminta Ji Heng untuk lewat. Ji Heng menempel pada dinding batu, sinar senter di tangannya memeriksa dengan hati-hati, takut akan adanya makhluk berbahaya yang bersembunyi di sana. Di antara celah batu itu terdapat banyak kerang kecil dan makhluk kecil yang tidak dikenal, sementara di kejauhan beberapa ikan teri bercahaya yang penasaran melintas.
Kedalaman semakin gelap, tekanan air semakin berat. Napas Ji Heng mulai sedikit terengah-engah, keringat menetes dari dahinya. Ia mulai bimbang: “Apakah ini benar-benar aman? Bisakah aku terus mengikuti Cheng Ying lebih dalam?” Tetapi melihat ketenangan Cheng Ying, ia berusaha mengumpulkan keberanian, berbisik pada dirinya sendiri: “Aku tidak boleh menyerah sekarang, ini adalah petualangan yang selama ini aku impikan.”
“Tempat selanjutnya perlu hati-hati.” Cheng Ying dengan lembut menggerakkan tubuhnya, menggunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan bahwa ada bahaya di depan. Mengikuti petunjuk Cheng Ying, Ji Heng mengubah posisi berenangnya, menjaga agar dekat dengan terumbu karang saat ia perlahan turun. Tiba-tiba, seekor ikan raksasa yang agresif melompat keluar dari kegelapan, mata merahnya bersinar dengan sinar mengerikan, mendekati mereka.
Pada saat itu, Ji Heng merasa kepalanya kosong. Ia ingin berbalik untuk melarikan diri, tetapi teringat bahwa jika ia mundur, kemungkinan besar ia tidak akan pernah memahami kebenaran perairan ini. Cheng Ying dengan cepat berenang di depan Ji Heng, mengembangkan sirip lebar untuk melindungi Ji Heng dari ikan raksasa tersebut. Cheng Ying mengeluarkan dengungan rendah yang mendesak, berusaha menggunakan aura-nya untuk mengusir makhluk tersebut.
Ikan raksasa itu terhenti karena merasakan ancaman, tak mau mundur. Ji Heng dengan cemas memikirkan strategi. Di kepalanya terlintas alat pengusir ikan yang diajarkan kakeknya ketika ia masih kecil—ketika ia terjebak di kolam kecil, ia bisa mengusir gurita kecil dengan suara ketukan batu. Ia cepat mengambil pelampung di tangannya dan mengetuk permukaan logam alat selamnya dengan lembut, suara ketukan yang keras dan teratur menyebar di dalam air dalam.
Gelombang suara mengguncang perairan dalam, bergetar samar. Awalnya ikan raksasa tidak bereaksi, tetapi setelah beberapa ketukan berirama berturut-turut, ikan raksasa itu tampaknya merasa jenuh atau terancam, membolak-balikkan tubuhnya dan perlahan mundur sambil menggeram, waspada saat menjauh dari jurang.
Cheng Ying dengan lembut menyentuh permukaan air, tubuhnya bersandar di bahu Ji Heng, sirip biru bergetar sedikit seolah berterima kasih. Ji Heng menghela napas lega, tidak bisa menahan tawa yang mesra, tawa itu menjadi gelembung yang naik ke permukaan air.
“Terima kasih, Cheng Ying, jika bukan karena kamu, aku pasti sudah ketakutan.” Ji Heng berbisik, meskipun suara tidak dapat disampaikan di bawah air, ia percaya Cheng Ying bisa merasakan rasa syukurnya.
Cheng Ying dengan lembut berputar di sekelilingnya dua kali, lalu di depan mereka muncul cahaya yang terang—sebuah kastil karang yang aneh tampak di hadapan mereka. Tempat ini jauh dari jaring ikan dan gangguan manusia, dasar laut dipenuhi berbagai jenis karang lunak dan tumbuhan bercahaya. Ribuan ikan laut dalam tinggal di sini, penuh warna dan misterius.
Cheng Ying berhenti di depan taman karang, menggunakan tubuhnya untuk menuntun Ji Heng ke tengah. Ia menggosok-gosok sebuah batu kecil yang bersinar biru, lalu ujung siripnya menyentuh permukaan air. Tak lama kemudian, ribuan makhluk bercahaya kecil menyala seolah dalam mimpi, dasar laut seketika menjadi sebuah alam dongeng berwarna.
Ji Heng melihat pemandangan megah ini dengan mata terbelalak. Ia menunjuk ke makhluk kecil yang bening seperti kristal dan bertanya: “Itu apa?”
Cheng Ying menunduk untuk mencium, dengan hati-hati menyentuh makhluk kecil tersebut dengan siripnya. Seketika, makhluk itu mengeluarkan gelembung kecil, dan ketika mengapung ke permukaan, ia berubah menjadi lingkaran cahaya seperti pelangi.
“Betapa menawannya…” Ji Heng bergumam. Ia segera sadar bahwa semua yang ia lihat di sini, baik itu makhluk maupun pemandangan, adalah keajaiban yang tak bisa dibayangkan dan tidak bisa dimiliki di darat.
Di dalam lautan biru yang lembut, Ji Heng dan Cheng Ying menjelajahi labirin karang. Ia mempelajari habitat makhluk laut dalam, mencatat cara dan ciri-ciri hidup mereka. Cheng Ying memandu, memberi peringatan di setiap sudut berbahaya, mengamati dengan cermat di setiap jalur yang tidak diketahui. Ini adalah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, keberanian, dan perhatian yang besar.
Terkadang, ia beristirahat dengan tenang di samping gua karang bersama Cheng Ying. Ji Heng mencoba mencatat pikiran dalam hatinya: “Setiap pemandangan yang aku lihat adalah hadiah dari semangat petualangan. Meskipun dalam proses ini aku beberapa kali merasa takut, khawatir, atau ragu, tapi selama aku bertahan sedikit lebih lama, aku akan menemukan dunia yang lebih indah daripada yang aku bayangkan.”
Di dalam jurang biru yang sunyi ini, waktu seolah terhenti. Ji Heng mengalami berbagai petualangan yang mendebarkan: pernah menari bersama kumpulan ubur-ubur bercahaya, pernah mencari ikan kecil yang tersesat di labirin karang lunak, bahkan menemukan bagian dari kapal yang tenggelam di kuno, dengan totem yang samar terlihat terukir di badan kapal yang rusak. Petualangan ini terus memperkaya pemahamannya tentang kehidupan, lautan, dan keberanian.
Suatu malam, Cheng Ying tiba-tiba membawanya ke tempat terdalam dari jurang. Ini adalah wilayah gelap yang jarang dijamah manusia, tekanan airnya sangat besar sehingga sulit bernapas, sekeliling hanya tersisa biru dan hitam yang berbaur, bahkan makhluk bercahaya pun jarang muncul.
Ji Heng mengikuti Cheng Ying dengan ketat, tidak berani santai sedikit pun. Tiba-tiba, cahaya biru mistis berpendar, sebuah gerbang stalaktit laut yang besar dan kuno berdiri di depan mereka, gerbang itu tertutup lumut tebal dan kerang manik-manik. Cheng Ying berhenti, menatap Ji Heng dengan serius, ujung siripnya menyentuh permukaan air, seolah menanyakan niatnya.
“Haruskah aku masuk?” Ji Heng bertanya dengan tatapannya. Pandangan Cheng Ying lembut dan tegas, seolah memberinya dorongan.
“Aku tidak boleh mundur,” Ji Heng berkata pada dirinya sendiri. Mengambil napas dalam-dalam, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh gerbang stalaktit, langkah demi langkah memasuki gua dengan cahaya bergetar itu. Di dinding batu, gelombang air berkilauan terpantul, setiap langkah seolah memasuki keajaiban baru.
Saat Ji Heng semakin mendalam, arus yang lebih dingin dari es melingkupi kakinya, namun pada saat yang sama, ada kekuatan misterius yang mendukungnya. Tiba-tiba, di dalam gua yang paling dalam, ia melihat sebuah berlian jantung laut yang mengapung di air—perhiasan misterius yang konon bisa mengabulkan harapan, dikelilingi oleh ribuan karang bercahaya.
“Apakah ini harta yang ada dalam legenda?” Ia mendekat dengan hati-hati. Cheng Ying berenang di sampingnya, siripnya melingkari bahunya. Pada saat itu, Ji Heng menyadari bahwa makna perjalanan ini bukanlah tentang mendapatkan harta luar, tetapi tentang mengalami keberanian dalam petualangan, keteguhan dalam tidak puas terhadap keadaan, dan keikhlasan untuk bertemu seorang teman yang tulus.
“Cheng Ying, terima kasih telah membawaku ke sini. Tanpa kamu, aku tidak mungkin menjelajahi tempat-tempat yang berbahaya dan dalam yang indah dan menakjubkan ini.”
Cheng Ying mengeluarkan suara lembut, mengayunkan tubuhnya, menatapnya dengan mata yang jujur dan cerah. Dalam momen singkat itu, mereka saling mengerti, jiwanya telah terhubung di dalam lautan dalam.
Saat meninggalkan gua stalaktit, Ji Heng tidak mengambil berlian jantung laut itu. Ia tahu, harta setiap penjelajah tidak hanya berharga di permukaan, tetapi dalam kenangan dan pertumbuhan yang ditinggalkan selama petualangan tersebut. Mereka kembali ke kastil karang, dalam perjalanan kembali bertemu dengan berbagai jenis kehidupan laut dalam, termasuk ikan laut dalam yang pernah ia takuti, kini bisa saling memandang dengan damai. Ia telah belajar untuk menghargai, lebih mengerti tentang ketahanan, dan lebih percaya pada pilihannya sendiri.
Ketika cahaya pagi masuk dari permukaan laut dan menjadi ribuan cahaya biru yang bercahaya, Ji Heng menggenggam sirip besar Cheng Ying, mengucapkan selamat tinggal. Ia perlahan mengapung ke permukaan, kembali ke perahu kecilnya, dan melihat ke belakang melihat Cheng Ying terbang melintasi jurang yang jauh. Biru yang dalam itu tidak lagi menakutkannya, malah terasa damai dan hangat seperti kampung halamannya.
Petualangan kali ini bukan hanya tentang mencari harta, tetapi juga perjalanan untuk mengenal diri dan teman. Mulai sekarang, setiap kali angin laut menerpa desa, dan malam mewarnai permukaan laut dengan biru, Ji Heng akan tersenyum mengingat lautan biru tersebut, juga sahabatnya yang jujur, berani, dan tidak pernah menyerah—sebuah ikan pari laut dalam yang luar biasa serta petualangan dan mimpi yang menakjubkan.
