Di perbatasan barat laut kerajaan, terdapat sebuah kota kuno bernama Yu City. Bentengnya menjulang tinggi, yang telah melalui kerusakan waktu dan berbagai pertempuran, batu bata tersebut memancarkan warna abu-abu sejarah. Saat malam tiba secara diam-diam, api pertempuran dari jauh menerangi setengah langit, tetapi di dalam kota, lampu masih berkelap-kelip, suara musik di istana melantun lembut. Ketika genderang perang dan melodi berjalin, kerajaan ini seolah menjadi perbatasan antara kenyataan dan mimpi.
Ji Yin, di bawah cahaya samar sebelum fajar, melangkah naik ke tembok kota. Ia mengenakan jubah pendek yang telah memudar, ujung jarinya mengeluarkan aroma tinta yang samar. Sebagai anak seorang penjaga kota, Ji Yin sering datang ke sini sebelum fajar, mencari sejenak kesendirian. Ia selalu merasa bahwa tembok ini mencatat kesedihan kerajaan selama ribuan tahun; setiap celah menyimpan cerita kuno. Dalam hatinya, ada kerinduan dan kebingungan; ia ingin menulis ulang legenda yang penuh tragedi itu, tetapi juga sangat takut akan ketidakberdayaannya.
Pada hari itu, ketika obor di timur baru saja berkedip di garis cakrawala, sosok ramping berjalan perlahan di sepanjang anak tangga berbatu. Di bawah sinar bulan, gaunnya berkilau seperti gelombang perak, seperti anggrek malam. Su Jin, gadis misterius dari istana, hampir tidak ada yang pernah mendengar namanya, tetapi karena sepasang matanya yang bisa berbicara, namanya mulai beredar di kalangan istana.
Su Jin seharusnya berada di istana, menari bersama bangsawan berpakaian mewah, minum anggur giok di bawah lorong kaca. Namun hari ini, ia melanggar aturan, menyelinap sendirian ke tepi tembok kota. Dengan jantung berdegup tidak menentu, ia ingin melihat dunia yang sangat berbeda dari yang ada di dalam istana, ingin merasakan nafas kehidupan yang terjalin antara melodi dan api pertempuran. Ia samar-samar menyadari bahwa hidup seharusnya bersinar dalam pertentangan.
"Siapakah Anda?" Ji Yin berdiri dalam bayangan, suaranya ditekan rendah.
Su Jin berbalik, sinar bulan menerangi wajahnya yang seputih giok, matanya berkilau dengan percikan yang tertekan. "Siapa saya tidak penting. Anda sendiri? Mengapa Anda berjalan di malam yang dalam ini?"
Ujung jarinya tanpa sengaja menyapu tulisan pudar di tembok. "Saya hanya... ingin melihat dunia di luar tembok, meskipun sekarang ada api yang menyala." Saat mengatakan ini, ia tiba-tiba terdiam, tatapannya beralih ke arahnya.
Su Jin menatap langit malam yang diterangi api pertempuran dengan nada seperti seruling yang bergetar: "Katakan, cahaya seperti ini, apakah itu kehancuran atau kelahiran kembali?" Tangannya menyentuh tembok dingin, mencari makna dalam setiap celah batu.
"Saya tidak tahu," Ji Yin menjawab serak, "Ayah saya meninggal dalam pertempuran, saya tidak tahu apakah rasa sakit ini bisa lahir kembali. Tapi saya juga tidak tahu mengapa kita masih bisa mengadakan pesta, bernyanyi dan menari di bawah awan gelap ini."
Pipi Su Jin sedikit memerah, tetapi itu adalah warna merah penuh keberanian. "Ayah saya adalah teman pejuang raja, seorang jenderal di militer, tetapi dia dianggap pengkhianat. Tembok ini pernah melindunginya, tetapi kini justru menjebaknya. Setiap kali suara pesta bergema, saya selalu berpikir, ini sejatinya kemenangan siapa?"
Angin malam bertiup, Su Jin dan Ji Yin terdiam dalam kesunyian, kesedihan mereka saling beresonansi. Mereka tidak menghibur satu sama lain, hanya duduk berdampingan di anak tangga dingin, memandang api yang berkelap-kelip di kejauhan. Malam memisahkan dunia mereka, tetapi membuat dua jiwa semakin dekat.
"Jika Anda bisa memilih, apa yang akan Anda lakukan?" Su Jin tiba-tiba bertanya.
"Saya ingin membawa diri saya pergi dari sini, ke tempat yang tidak ada perang," Ji Yin menggenggam erat kedua kepalan tangannya, suaranya penuh hasrat yang cukup sulit diungkapkan.
"Saya dulu berpikir pesta adalah segalanya bagi kerajaan, tetapi kemudian menyadari, itu hanya musik yang menutupi jeritan kesedihan." Su Jin berbicara dengan nada menyindir, "Saya ingin melakukan beberapa perubahan, meskipun hanya untuk memberi tahu orang lain bahwa masih ada kemungkinan lain di luar tembok."
Ji Yin menatap Su Jin, merasakan ketegasan dalam kata-katanya. Ia tiba-tiba berpikir, jika mimpi dapat terwujud, itu harus dimulai dari kedalaman hati.
"Bagaimana Anda akan memberi tahu orang lain?" Ji Yin bertanya hati-hati, nada suaranya penuh harapan dan rasa ingin tahu.
Su Jin menunduk untuk mengambil kunci tipis yang tergantung di pinggangnya, sebuah kunci perak yang dikelilingi oleh kristal biru. "Saya ingin membawamu masuk ke istana, untuk melihat kegelapan di balik pesta. Mungkin, kau akan menulis cerita yang berbeda dari tembok ini."
Tatapannya terkunci padanya, Ji Yin mendadak bergetar, seperti disinari oleh cahaya waktu. Ia tidak ragu, bertanya lembut: "Kapan?"
"Malam ini." Su Jin tersenyum tipis, keberanian mengalir dari sudut bibirnya, "Malam ini, akan ada sinyal obor menyala di pintu belakang dekat aula kerajaan, saya akan di sana menuntunmu masuk."
Sebuah rasa dingin menyapu langit malam, sebelum Ji Yin pulang dari tembok kota, ia menyimpan kata-kata Su Jin sebagai mimpinya sendiri. Di dalam rumah, ibunya sudah tertidur, ia mencengkeram keputusan malam ini, tidak berani mengucapkannya dengan mudah.
Malam bagaikan air, memandang ke arah pusat kota kerajaan, berkilauan dengan kemewahan. Pertunjukan sudah mencapai puncaknya, ribuan lilin menerangi lorong giok, suara musik mengalun ke setiap jendela. Ji Yin menundukkan kerudungnya, membawa tas sederhana, melintasi jalan kecil yang dikenalnya menghindari penjaga, menuju pintu belakang yang disebutkan Su Jin.
Su Jin telah menunggunya di bawah cahaya api. Ia mengenakan jas hitam pelayan hari ini, wajahnya serius dan sedikit ragu. Ia memberi isyarat untuk mengikutinya, keduanya merapat ke dinding saat masuk, langkah mereka ringan, sesekali menghindari penjaga yang berpatroli. Mereka melewati lorong yang dipenuhi cermin, melalui ruang pesta yang harum, melihat para bangsawan tertawa atau berbisik, tetapi tidak ada yang menyadari kehadiran pasangan muda yang asing ini.
Su Jin menuntun Ji Yin melewati ruangan kecil dengan kisi-kisi yang pudar, menyalakan lampu minyak di dinding. Di bawah cahaya yang bergetar, sekelilingnya penuh dengan dokumen kuno dan peta. Su Jin merendahkan suaranya: "Ini adalah ruang rahasia ayah saya untuk merencanakan strategi. Apa yang bisa kamu lihat di sini, bukan hanya perang, tetapi juga kebohongan di balik pesta."
Ji Yin terkejut, jarinya menyentuh kertas kuning, setiap halaman mencatat strategi perang dan perselisihan di pengadilan. Kedua tangannya bergetar: "Ternyata... kerajaan tahu bahwa mereka bisa menghindari perang, tetapi memilih pertempuran, karena pesta seperti ini lebih mudah mengendalikan hati rakyat."
Tatapan Su Jin berkilau dengan api yang menyakitkan, "Ayah saya yang menginginkan perdamaian, dicap sebagai pembangkang dan dipecat, hanya menyisakan tinta dan kertas ini. Di balik pesta ini, ada air mata dan darah dari banyak orang."
Ia membimbing Ji Yin untuk membalik halaman peta dan dokumen, menjelaskan secara rinci bagaimana kerajaan memanfaatkan dukungan rakyat, bagaimana mitos kemenangan disebarkan di pasar, bagaimana mereka menutupi tangisan tanpa suara para tentara pengungsi dan keluarganya. Su Jin suaranya serak, ia menggigit bibir, tetapi tetap bertahan agar setiap detail tersampaikan dengan jelas. Ji Yin mendengarkan di samping, dari keterkejutan awal hingga akhirnya kemarahan dan sakit hati, berbagai pertentangan yang tidak bisa ia pahami saat malam panjang, akhirnya terjawab satu per satu.
"Mengapa kau membawaku kesini?" Ji Yin teringat wajah ibunya menyalakan lilin untuk ayahnya, suaranya bergetar, "Apakah kau tidak takut terlibat?"
Su Jin menatapnya dengan tegas, di matanya tersimpan kilau seperti danau yang berkilau, "Karena hanya kamu yang bisa menulis cerita baru. Setiap malam di bawah tembok, saya melihatmu, menciptakan puisi dari cinta dan rasa sakit. Kerajaan ini membutuhkan suara baru. Bukan hanya ayah saya, tetapi juga ayahmu, ayah banyak orang... hanya kau yang berani untuk berbicara."
Darah Ji Yin mulai berdegup kencang, sebuah rasa tanggung jawab yang belum pernah dirasakannya sebelumnya menariknya. "Tapi bagaimana harus aku lakukan? Saya hanya orang kecil, bahkan belum pernah meninggalkan Yu City."
Su Jin mengambil tumpukan kertas dari tumpukan dokumen, "Kau tuliskan kebenaran, salin beberapa salinan. Saya akan menyelipkannya ke berbagai sudut agar lebih banyak orang melihatnya. Tidak semua orang akan mempercayaimu, tetapi beberapa orang akan bersedia untuk berubah."
Ji Yin menggenggam pena, menahan napas dan berkonsentrasi. Ia mencatat setiap rumah yang menangis, setiap desa yang hancur oleh perang, serta menyebutkan nama-nama mereka yang tidak hadir di pesta. Ia menggambarkan dengan teliti keteguhan ayah Su Jin yang menjaga kota di malam hari, serta menuliskan harapan masa depan saat ia dan Su Jin berdiri berdampingan di tembok. Ia menuliskan getaran terdalam dari hatinya, juga cahaya berani yang ada di mata Su Jin.
Waktu mengalir di ujung pena, keduanya terhanyut dalam perasaan bersama. Ketika Ji Yin menyelesaikan baris terakhir, Su Jin berkata dengan penuh perasaan: "Kau sudah mulai mengubah kerajaan ini."
Malam sudah larut, Su Jin lembut melipat kertas itu, menyimpannya dalam tas tertutup. Ia bertekad untuk menyampaikannya sendiri kepada para pahlawan, warga desa, dan penyair di luar istana. Saat keduanya bersiap untuk meninggalkan ruangan, tiba-tiba terdengar langkah kaki di luar yang berisik, beberapa penjaga melintas secara tidak sengaja, dan mereka terdiam, tubuh mereka menempel pada dinding. Su Jin perlahan menggenggam tangan Ji Yin, nadi mereka bergetar bersama di telapak tangan masing-masing.
Dalam malam itu, mereka diam-diam melarikan diri, Su Jin membawa Ji Yin melewati gang kecil di belakang tembok istana. Mereka berlari di bawah sinar bulan, mengejar harapan yang samar tetapi mantap. Akhirnya, ketika mereka kembali dengan aman ke tepi tembok, mereka saling tersenyum, sebuah pemahaman timbal balik muncul setelah berbagi risiko.
"Apakah kita akan bertemu lagi?" Ji Yin bertanya, suaranya penuh dengan emosi yang belum terungkap. Ia menatap Su Jin, tembok kuno menyaksikan dua jiwa bertemu di sini.
Su Jin membalas dengan senyuman tipis, sementara matanya berkilau dengan kelembutan yang belum pernah ada sebelumnya. "Saat kau memberikan cerita nyata kepada kerajaan ini, kita akan bertemu dalam mimpi. Kau berani, dan aku tidak lagi sendirian."
Pesta berlanjut, tetapi api pertempuran di kejauhan tampaknya mulai padam. Malam tetap berwibawa, di tembok Yu City, sebuah legenda baru mulai mengalir di hati orang-orang. Beberapa orang berkata, seorang pemuda dan seorang gadis bertemu di malam yang dipenuhi dengan peperangan dan pesta, salah satu memegang puisi, dan yang lainnya memegang masa depan, mereka di persimpangan mimpi dan kenyataan, menuliskan bab baru kerajaan.
Waktu berlalu dengan tenang, tembok Yu City masih berdiri, celah-celahnya mulai tumbuh bunga-bunga kecil berwarna ungu-biru. Orang-orang sering mendengar, di malam hari, bait-bait puisi mengalir angin, menggambarkan cinta dan kebencian pemuda dan gadis, keberanian dan kejujuran yang bagaikan dongeng. Di kerajaan kuno tempat pesta dan peperangan saling berdampingan, semua cerita belum berakhir, semua impian masih memiliki peluang untuk terwujud.
