Galaksi tergantung lembut di langit malam seperti pita perak, dengan cakrawala biru kelam dihiasi oleh ribuan bintang yang berkilau. Lampu kota telah tenggelam di cakrawala, jauh di sana hanya ada suara serangga yang lembut dan bisikan angin malam. Ysevelyn melangkah di sepanjang jalan setapak yang berkelok-kelok di taman, setiap helai rumput bergetar di bawah kakinya. Malam itu, dia tidak merasa kesepian lagi, karena di bawah bintang-bintang yang berkilau, ada seseorang yang sedang menunggunya.
Roan berdiri di tepi observatorium, rambut peraknya bersinar dalam kegelapan malam seperti cahaya kristal. Ketika dia melihat Ysevelyn, senyuman lembut muncul di sudut bibirnya. "Kau datang, Ysevelyn," katanya dengan suara lembut.
"Di malam seindah ini, bagaimana aku bisa melewatkannya?" Ysevelyn membalas dengan senyuman, perlahan mendekat ke samping Roan. Dia menoleh ke langit yang megah, matanya bersinar seperti bintang-bintang. "Kau bilang malam ini akan ada hujan meteor, kan?"
Roan tidak langsung menjawab, hanya dengan tenang meraih tangan Ysevelyn. Ujung jari mereka bertemu, menciptakan titik cahaya terhangat dalam gelap malam. "Aku percaya akan ada," katanya dengan nada yang yakin dan lembut, "Bintang-bintang selalu muncul saat kita paling mengharapkannya, seperti setiap kali kau mendekat, rasanya semesta ini bersinar sedikit lebih terang."
Ysevelyn menundukkan kepala, wajahnya merona. Angin lembut berbisik di taman, seolah-olah suara peri dari kedalaman galaksi. Tiba-tiba, seberkas cahaya membelah langit malam, sebuah meteor dengan cepat bersinar di depan mereka, perlahan jatuh.
"Buang harapanmu," kata Roan seraya memandang meteor yang melintas, "Semesta ini begitu besar, mungkin saja harapan itu benar-benar akan jatuh di kaki kita."
Ysevelyn menutup mata dengan kedua telapak tangannya, dia diam-diam mengucapkan harapan terdalamnya. Dia ingin bisa melewati setiap malam seperti ini bersama Roan, berdiri di sampingnya, bahkan ketika bintang-bintang menghilang, hati mereka masih akan saling terikat.
Saat itu, suara aneh namun akrab terdengar di ujung taman. Seorang pria tua berpakaian jubah putih perak berdiri di bawah bayangan pohon, matanya jernih seperti lautan bintang, rambutnya melayang ringan seperti awan. Pria tua itu berkata dengan suara yang dalam namun tegas, "Dua pemuda, malam ini adalah malam bintang, semua harapan bisa didengar."
Roan dengan terkejut bertanya, "Siapa Anda? Bagaimana Anda bisa ada di sini?"
Pria tua itu tersenyum tipis, seolah seluruh cahaya bintang berkumpul di dalam matanya. "Aku adalah pengembara malam, serta penjaga bintang. Orang-orang menyebutku Yuggrein. Setiap kali galaksi bersinar paling terang, aku turun untuk membimbing hati yang tersesat."
Ysevelyn dan Roan saling memandang, detak jantung mereka diam-diam saling terhubung dalam gelap malam. "Dapatkah Anda membantu kami mengabulkan harapan?" tanya Ysevelyn dengan sedikit keraguan.
Yuggrein melangkah sedikit lebih dekat, tongkat perak di tangannya ringan menyentuh tanah, dan seketika segala sesuatu di taman menjadi lebih jelas. Cahaya bintang kecil berkilau di daun, bunga-bunga berbicara lembut satu sama lain, dan bumi bernafas lembut. "Jika harapan itu tulus, bintang-bintang pasti akan merespons. Ucapkan harapan kalian kepada langit malam, dan dengarkan bagaimana ia menjawab."
Roan dan Ysevelyn perlahan menutup mata, tangan mereka bersatu di depan dada sebagai petunjuk dari Yuggrein. "Bintang-bintang di atas, aku ingin selamanya menjaga Ysevelyn, memberinya tawa dan kelembutan tanpa henti." Suara Roan bergetar namun jelas, seperti mata air yang jernih di bawah sinar bulan.
Ysevelyn juga mengucapkan lembut, "Hanya ingin berdiri di samping Roan, meski waktu berlalu dan bintang-bintang redup, semoga keinginan kita saling melampaui segalanya."
Begitu suara mereka menghilang, langit malam meledak dengan cahaya lembut, seolah-olah ribuan peri kecil menaburkan cahaya bintang dari langit, mewarnai taman menjadi galaksi yang mengalir. Yuggrein tersenyum sambil mengayunkan tongkatnya, sebuah cahaya seperti gelombang mengalir dari kaki mereka, membungkus mereka.
Tiba-tiba, pemandangan taman berputar seperti mimpi. Dunia di depan mereka menjadi tak terbatas, mereka berada di teras yang melayang di atas galaksi, dikelilingi oleh awan yang halus dan cincin bintang yang berputar perlahan. Ysevelyn terkejut melihat sekeliling, "Di sini, di mana ini?"
"Di sini adalah wilayah bintang," Yuggrein menunjuk ke kejauhan dengan lembut, "Di sini, setiap harapan bisa menjadi bagian dari kenyataan."
Roan melihat galaksi yang tidak terbatas itu, bersemangat namun juga bingung, "Harapan kita, apakah benar-benar bisa terwujud?"
Yuggrein tersenyum dengan tenang, "Harapan lahir dari ketulusan, dan terwujud melalui tindakan. Kalian saling menjaga, saling menghargai, sudah membuat bintang merasakan ketulusan kalian. Selanjutnya, kalian akan mengalami tiga ujian, setelah melalui ujian itu, harapan kalian bisa benar-benar terwujud."
Ysevelyn menggenggam tangan Roan, "Mari kita lakukan bersama."
Ujian pertama muncul di depan labirin kristal yang melayang. Labirin itu bening, setiap jalan memantulkan bayangan langit malam. Yuggrein menunjuk ke dalam labirin, "Ujian pertama adalah 'kepercayaan'. Hanya dengan saling mempercayai, kalian bisa keluar dari labirin. Jika ada satu orang yang meragukan, mereka akan tersesat selamanya di dalamnya."
Keduanya melangkah ke dalam labirin, banyak persimpangan seperti jaringan bintang yang terjalin. Saat tiba di persimpangan pertama, Roan ragu, "Kita harus pergi ke mana?" dia bertanya pelan.
Ysevelyn mengulurkan tangan dan menyentuh lembut telapak tangan Roan, "Mari kita tutup mata, dengarkan detak jantung satu sama lain. Percaya pada pilihan kita, jangan bergantung pada tampilan luar."
Mereka menutup mata sesuai kesepakatan, mendengarkan detak jantung dan napas satu sama lain dengan sabar. Dengan kepercayaan yang saling menghubungkan, mereka maju, saling mengandalkan untuk menuntun melewati jalur yang berkelok. Dari dalam labirin tampak bayangan samar, kadang-kadang muncul sosok yang dikenal, kadang-kadang kenangan yang hilang, seolah-olah mengganggu pikiran. Namun setiap kali mereka merasa tersesat dan ragu, Ysevelyn akan lembut memanggil Roan, "Percayalah padaku, aku di sini." Roan merespons dengan pelukan lembut, dan mereka kembali melangkah maju berdampingan.
Akhirnya, ketika mereka mendorong pintu kristal terakhir, cahaya bintang di atas menjadi sangat terang. Yuggrein menyambut di depan pintu dengan senyum puas, "Kepercayaan kalian seperti galaksi yang mengalir, tak terhancurkan. Ujian berikutnya akan menguji 'keberanian' kalian."
Di tepi teras, terlihat jurang yang tidak terlihat dasarnya. Seluruh samudera bintang dipantulkan di dalamnya, seolah-olah sekali jatuh akan hilang selamanya dalam malam yang tak berujung. Yuggrein mengumumkan dengan serius, "Silakan bergandeng tangan melintasi jurang ini. Jika kalian merasa ragu atau bimbang, bintang-bintang akan memudar."
Roan memandang kegelapan yang luas di bawahnya, rasa takut akan ketidakpastian sejak kecil membakar di dalam dadanya. Namun ketika melihat mata Ysevelyn yang cerah dan penuh keyakinan, keberanian langsung terbangun di dalamnya. "Kita akan melangkah bersama, apa pun yang ada di depan."
Ysevelyn mengangguk, keduanya menggenggam tangan. Dengan keberanian penuh, dia mengambil langkah pertama, dan di udara muncul jembatan bintang yang tak terlihat. Roan segera mengikuti, setiap langkah yang mereka ambil membuat jembatan mekar dengan cahaya yang menakjubkan. Mereka melangkah berdua, cahaya bintang di jembatan semakin bersinar, dan kegelapan jurang perlahan-lahan sirna.
Ketika melangkah melalui langkah terakhir di jembatan bintang, seluruh galaksi seolah bersorak dan bertepuk tangan untuk mereka. Yuggrein mengangguk dengan penuh kepuasan, "Bersedia mengatasi ketakutan demi orang yang dicintai, berarti kau takkan takut menghadapi dunia." Suaranya lembut tapi penuh kekuatan.
Saat ini, ujian ketiga dengan tenang dimulai. Yuggrein membawa mereka ke sebuah danau cermin, yang mencerminkan gambaran masa lalu, masa kini, dan masa depan. "Ujian terakhir adalah 'memahami'. Kalian harus melihat rasa sakit di hati satu sama lain, berkomunikasi dengan jujur, baru bisa keluar dari tepi danau."
Ysevelyn dan Roan duduk berdampingan di tepi danau, menatap permukaan danau dengan hening. Air danau tiba-tiba bergejolak, memantulkan masa lalu Ysevelyn yang penuh penderitaan: kesalahpahaman dan kesepian yang dialaminya, rasa takut dan harapan di dalam hatinya, sedikit demi sedikit terbongkar dalam cahaya lembut. Roan dengan lembut menggenggam tangannya, berbisik, "Kau tidak perlu menanggung semuanya sendirian lagi, apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu."
Mata Ysevelyn berkaca-kaca, namun kata-kata Roan menyangga kelemahannya. Dia membalikkan tangan untuk menyentuh pipi Roan, suaranya lembut dan tulus, "Kau tidak perlu lagi menyembunyikan ketidakberdayaanmu, dan tidak perlu selalu kuat. Biarkan aku menemanmu menghadapi setiap kesulitan, seperti kau menemani aku."
Permukaan danau memproyeksikan kenangan Roan, membawanya bersama Ysevelyn memasuki bayangan masa lalu. Dia bercerita kepada Ysevelyn tentang kekhawatiran dan tekanan masa kecilnya, mengungkapkan kecemasan di hatinya — takut tidak bisa memberikan kebahagiaan untuknya; takut dirinya tidak layak untuk dicintai. Ysevelyn merangkulnya, menjadikan semua ketidakpastiannya penuh dengan kehangatan.
Air danau semakin jernih, cahaya bintang di langit malam jatuh ke dalamnya, menyatu menjadi senyuman yang lembut. Ketika keduanya berdiri, permukaan danau sudah seperti kristal murni, bergetar dengan semua keindahan dan kelembutan.
Yuggrein mengetuk tongkat peraknya, cahaya galaksi mengelilingi mereka. Dia berkata dengan penuh sukacita, "Kalian telah melewati ujian kepercayaan, keberanian, dan pemahaman, bintang-bintang mendengar harapan kalian. Selanjutnya, tidak peduli bagaimana semesta berubah, hati kalian akan selalu saling mengikat, tidak akan tersesat lagi."
Seiring tuturannya berakhir, galaksi seolah menurunkan jutaan hadiah. Cahaya perak jatuh di sekitar mereka seperti kelopak bunga, dan taman muncul kembali di kaki mereka, sementara Ysevelyn dan Roan, tetap bergenggaman, berpelukan di bawah galaksi.
Saat itu, bintang-bintang di langit bersinar lebih terang dari sebelumnya, masing-masing seolah menyaksikan tekad mereka. "Kita... kita berhasil," Ysevelyn berbisik.
Roan memeluknya erat, berkata lembut, "Kita akan selalu menatap langit malam, sempurna dalam semua harapan yang kita jalani bersama."
Yuggrein muncul kembali, janggutnya melayang lembut di udara, "Semoga cinta kalian menjadi bintang paling bersinar di langit malam, memberikan harapan dan keberanian bagi para pejalan di masa depan." Setelah itu, dia menerangi dirinya menjadi cahaya, menghilang ke kedalaman langit.
Jadi, setiap kali malam tiba, bintang-bintang tergantung di langit, Ysevelyn dan Roan akan saling berpelukan di taman, menaburkan semua kelembutan dan cinta, sedikit demi sedikit ke galaksi. Tidak peduli bagaimana waktu berlalu, malam ketika mereka menatap bintang dan saling berpelukan — akan selalu bersinar dengan cahaya yang takkan pernah padam di hati mereka.
