Langit sore dipenuhi awan gelap, cahaya suram menembus jendela berukir, menyinari halaman dalam istana kuno Cina yang dalam. Lorong batu bata yang panjang tampak seperti ular raksasa berwarna abu-abu, melingkar di antara dinding istana yang menjulang tinggi. Halaman yang luas sepi suara, hanya ada bisikan angin, dan udara dingin yang sedikit menegangkan menyelimuti. Di bawah cahaya matahari yang samar, dua sosok saling berhadapan di kejauhan.
Rou Chuan berdiri di ujung lorong, tubuhnya ramping dan tegap, sabuk biru laut di pinggangnya sudah kusut, terutama wajahnya yang tampan, kini terbayang sebuah ekspresi pahit dan penuh kepedihan. Rambutnya berkibar lembut oleh angin, kedua matanya yang semula berkilau kini dipenuhi dengan emosi yang rumit—tidak ikhlas, ragu, duka, dan keteguhan menyatu di dalamnya.
Di hadapannya berdiri Xue Li. Ia mengenakan gaun putih yang menyerupai awan, meskipun ujung pakaiannya kotor, namun tidak dapat menutupi auranya yang bersih seperti salju. Pedang panjang yang dipegangnya berkilau perak, air mata mengalir jatuh di pipinya, melukiskan ekspresi tegas namun lembut, dan akhirnya jatuh ke atap istana yang pecah. Di belakangnya, beberapa pengawal tergeletak di tanah, beberapa dengan mata melotot, senjata tergeletak di dada mereka, setia melindungi tuan mereka dan menghadirkan keadilan terakhir, terhenti dalam kehidupan yang tiba-tiba itu.
Saat angin bertiup, potongan armor yang hancur dan darah membentuk bintik-bintik di tanah. Rou Chuan melangkah maju secara perlahan, langkahnya ringan namun penuh dengan ketidakmungkinan untuk berbalik, setiap langkah bergetar di dalam hati Xue Li.
"Kenapa?" Suara Xue Li bergetar, seperti air musim semi yang terhalang, mengandung jeritan kesedihan yang tertekan, "Kau tahu, pedang ini adalah perpisahan."
Rou Chuan berhenti, menatap dalam-dalam ke mata Xue Li, yang dulunya jernih seperti cahaya pagi kini tertutup oleh kesedihan. Dia menundukkan kepala, banyak kata terlintas di bibirnya namun sulit untuk diucapkan.
"Jika aku tidak menghentikanmu," Rou Chuan akhirnya berkata pelan, "ayah dan seluruh keluarga Shang akan terlibat. Xue Li, apakah kau mengerti? Aku tidak bisa membiarkanmu melangkah setengah langkah lagi."
Mendengar kata-kata itu, Xue Li menggenggam erat gagang pedangnya, jari-jari putihnya tampak sedikit membiru, air mata terus mengalir: "Dan kau tahu, ketidakadilan yang ada di dalam dinding istana ini, banyak pahlawan setia yang telah mati, jika aku tidak mengungkap kedamaian palsu kalian, mereka tidak akan tenang!"
Di kejauhan, lonceng angin di dinding istana bergetar lembut, memainkan melodi aneh dan menyedihkan. Hati Rou Chuan tercabik-cabik oleh kenangan masa lalu. Ketika mereka masih kecil, mereka berlari-lari di halaman ini, dia menemani Xue Li belajar berjalan dengan pedang, sementara dia menyuruhnya membuatkan pedang dari ranting willow, bahkan berkata ingin menghapus keburukan dan menyelamatkan rakyat. Seiring bertambahnya usia, mereka masih saling mengenal, namun takdir membawa mereka ke jalan yang berlawanan.
Rou Chuan menutup matanya, suaranya semakin rendah: "Xue Li, jika kau bersikeras seperti ini, hari ini aku... harus menghentikanmu. Ini bukan karena aku ingin—tetapi karena memikul misi keluarga Shang, posisiku kini berbeda dari yang lalu."
Xue Li menelan ludah, ujung pedangnya bergetar. Udara di antara mereka tampak begitu padat, membuat sulit bernapas. Pada saat itu, Xue Li mengangkat pedangnya dalam diam, menggerakkan lengan yang bergetar dengan seluruh kekuatannya: "Rou Chuan, aku pikir kau mengerti, pedang ini bukan untukmu, juga bukan untukku, tetapi untuk jiwa-jiwa setia yang tak bisa kita temui lagi."
Rou Chuan menarik napas dalam-dalam, perlahan-lahan melangkah maju. Dia tidak menarik pedangnya, diam-diam mengulurkan tangan, melindungi Xue Li seperti saat dia masih kecil, namun seperti mendirikan dinding panjang dengan tubuhnya sendiri.
"Xue Li..." Suara Rou Chuan penuh kelembutan yang belum pernah ada sebelumnya, "Jika kau ingin menembus jalan ini, kau harus melangkah melewatiku. Aku tahu kau memiliki keterampilan pedang, dulu aku mengajarkanmu teknik, jika hari ini kau sudah bersikeras, silakan tusuk ke depan."
Xue Li menatap langsung ke mata Rou Chuan, ribuan kata akhirnya berubah menjadi sebaris air mata. Tiba-tiba, dia menerjang maju, kedua tangan menggenggam pedang, kilau pedangnya seakan mengalir, langsung menusuk dada Rou Chuan. Ketika akan mencapai, pergelangan tangan Xue Li sedikit terhenti, tekanan di pedangnya mencerminkan perjuangan.
Tapi Rou Chuan tidak mundur, dia hanya menutup mata, dada menghadap ke ujung pedang.
Ujung pedang yang tajam hanya berhenti satu inci di depan dada Rou Chuan, Xue Li gemetar memanggil: "Kenapa kau tidak melindungi diri?"
Rou Chuan perlahan membuka matanya, mencerminkan wajah Xue Li yang keras dan tidak berdaya. "Jika kau berpegang pada ini, itu adalah takdir yang ditentukan, Rou Chuan tidak akan pernah menjadi musuhmu."
Tangan Xue Li terus bergetar, matanya penuh dengan rasa sakit, hatinya mengalami tarikan yang hebat: di satu sisi ada misi keadilan, di sisi lain ada perasaan lama yang tak bisa dilepaskan. Ujung pedang perlahan-lahan membentuk goresan tipis di dada Rou Chuan, tetapi dia sulit untuk melanjutkan.
Saat itu, halaman terasa hening hingga suara tetesan darah jatuh ke tanah bisa terdengar. Di kejauhan, burung-burung tiba-tiba terbang, angin dingin semakin menusuk. Rou Chuan berkata pelan, dengan kepedihan dan kelembutan:
"Xue Li, satu langkah jarak, batas hidup dan mati. Jika kau mundur setengah langkah, aku akan menjamin keselamatanmu; jika kau maju setengah langkah, Rou Chuan akan bersamamu."
Xue Li teringat saat-saat ketika Rou Chuan melindunginya dari ular berbisa, menemani dia berlatih pedang hingga tangannya terluka, hanya untuk memberinya penghiburan lembut. Dia pernah bersumpah untuk pergi berpetualang bersama Rou Chuan, namun hari ini justru berujung pada perlawanan. Xue Li berseru dengan segenap tenaga: "Jika kau menghentikanku, aku akan mempertaruhkan nyawaku, tidak akan membiarkan jiwa setia terbenam di dalam tembok istana!"
Rou Chuan menatap Xue Li, tatapannya terus mantap seperti dulu. "Aku akan menemanimu, tetapi apakah kau mau percaya... terkadang bertahan lebih menyakitkan daripada menyerang."
Keduanya berdiri di tengah lorong, pedang dan rasa sakit di hati terjalin dalam tangisan tanpa suara. Seorang pengawal yang mengabaikan lukanya, bangkit dari tanah, terengah-engah berteriak: "Tuan jangan! Hamba bersumpah untuk melindungi sampai mati!"
Xue Li menatap pengawal itu, wajah yang familiar terlintas di benaknya, melihat juga sebaris pahlawan setia yang tergeletak di tanah. Mereka dahulu melindungi dirinya tanpa takut akan hidup atau mati, hanya berharap momen ini dapat membawa kejelasan kembali. Xue Li tiba-tiba merasakan beratnya pedang di pundaknya, seperti menekan ribuan gunung. Dia perlahan berjongkok, memasukkan pedang ke dalam celah batu biru. Angin dingin menyapu telinganya, dia membuka mulutnya dengan lembut, suaranya penuh kelelahan dan kebebasan:
"Aku... meletakkan pedang ini, maukah kau mencari jalan keadilan yang lain?"
Rou Chuan dan Xue Li saling memandang, dia tidak segera menjawab. Beberapa saat kemudian, dia membungkuk dan menggenggam pedang berkilau itu, menyebutkan:
"Pedang dapat diletakkan, tetapi keadilan tidak boleh berhenti. Aku akan menemanmu mencari jalan, hanya takut istana ini begitu dalam, gelap seperti malam."
Xue Li menutup matanya, membiarkan air mata mengalir di pipinya. Dia teringat malam-malam panjang yang sepi di masa lalu, hatinya hanya tersisa bayangan dan takdir. Saat ini, kata-kata Rou Chuan layaknya sinar bintang samar di malam hari, menciptakan sedikit cahaya dalam gelap. Dia perlahan bangkit, melihat ke arah para pengawal yang tergeletak, satu per satu mendekat. Xue Li berlutut, memberi penghormatan kepada jiwa-jiwa yang mati: "Terima kasih atas kesetiaan dan pengorbanan kalian, jika kalian tahu di alam kubur, mohon maafkan keraguanku."
Rou Chuan melangkah maju, menepuk bahu Xue Li, suaranya kini tidak lagi ada permusuhan, hanya tersisa kelembutan seorang teman. "Mereka semua adalah orang-orang berprinsip, semangat mereka pasti akan terus ada di atas lorong ini, di dalam istana. Kita harus melanjutkan misi mereka, hidup untuk memastikan bahwa istana ini kembali kepada kejelasan."
Saat awan gelap terpisah, sinar redup mulai muncul di batas langit. Xue Li mendongak, seakan seluruh dunia kembali bernapas—meskipun jaraknya dari kejelasan sejati masih jauh, tetapi cahaya kecil ini seperti tunas harapan yang tumbuh kokoh di tengah kegelapan yang luas. Dia perlahan menggenggam tangan Rou Chuan, dan keduanya berjalan bersama dari ujung lorong menuju kedalaman halaman.
Di kejauhan, lonceng angin yang patah kembali berbunyi. Meskipun angin masih membawa aroma darah yang tersisa, langkah Xue Li dan Rou Chuan tidak lagi ragu. Mereka berdiri berdampingan—jalan ini ditakdirkan untuk panjang, tetapi selama mereka berjalan bersama, tidak akan lagi merasa kesepian.
Di bawah dinding-dinding istana yang dalam, ada yang bersuka cita, ada yang merintih, ada yang setia hingga mati, ada yang melanggar janji. Malam semakin larut, awan gelap bergerak, yang tersisa adalah ketenangan dan keteguhan setelah perjuangan. Rou Chuan dan Xue Li bersumpah diam-diam, apapun bahaya dan kegelapan yang akan datang, tidak akan membiarkan satu sama lain jadi lebih banyak jiwa yang terzalimi.
"Langkah selanjutnya, kita akan mencari saksi." Rou Chuan berkata pelan.
Xue Li mengangguk: "Mungkin masih ada hati nurani yang belum tenggelam."
Keduanya melanjutkan langkah di lorong, melintasi tubuh pengawal yang terjatuh. Mereka berhenti, menyusun kembali tubuh pengawal satu per satu, menutupi dengan jubah bersulam istana. Setiap kali mengatur satu orang, Xue Li berbisik:
"Kalian, akan ada yang mengingat."
Rou Chuan menjawab lembut: "Keadilan akan diwariskan."
Angin dingin menyebarkan kata-kata itu jauh, mendorong keberanian dan tekad keduanya ke dalam kegelapan malam yang lebih dalam. Di belakang mereka, ada istana yang menyimpan kebenaran yang brutal; di depan, adalah jalan tanpa batas, mungkin penuh bahaya tetapi juga mengandung cahaya. Mereka tahu, ini adalah titik awal kebangkitan—kesetiaan, keadilan, dan pengorbanan akan selalu ada di setiap batu dan setiap desah napas.
Dan halaman yang gelap akan segera disambut siang. Dalam langkah Rou Chuan dan Xue Li, sebuah kisah keadilan baru baru saja akan dimulai.
