Danau Biru terletak di kaki Gunung Yunshen yang tenang, air danau seolah mencerminkan mimpi terdalam dari langit. Luo Yu melangkah perlahan di atas embun pagi, dengan telapak kaki ringan, memanggul pedang berbentuk pelana yang telah lama dicuci. Ia berjalan perlahan ke tepi Danau Biru. Lengan bajunya melambai lembut, seperti awan yang berarak. Di bawah cahaya pagi, dasar danau kadang-kadang berkilau perak, seolah-olah dijaga oleh dewa.
Luo Yu mengenakan jubah pahlawan, dengan kerah putih bersih yang dihiasi dengan daun bambu hijau tua, dan seutas kain berwarna gelap melilit pinggangnya. Ia membungkuk dan memandang permukaan danau, airnya jernih hingga bisa melihat ke dalam, menampakkan batu ungu dan bergetar dengan ikan-ikan putih perak yang bergerak. Luo Yu menarik napas dalam-dalam, mengingat nasihat dari ayahnya sebelum berangkat: “Baik dan jahat, hanya dipisahkan oleh garis tipis. Menyusuri dasar danau, apakah itu pencarian cahaya atau kekacauan hati?”
Jari-jarinya menyentuh air danau, merasakan dingin yang mengalir. Permukaan danau memantulkan cahaya matahari, seolah mengundangnya untuk menjalani petualangan yang tak terduga. Luo Yu menarik napas dalam beberapa kali, mulai memasuki kondisi fokus. Ia mengingat mantra pahlawannya yang tersembunyi di dalam hatinya, membangkitkan energi sejatinya, jubahnya sedikit mengembang, seolah ia telah menjadi selembar daun bambu yang melambai tertiup angin. Setelah tubuhnya terbiasa dengan dinginnya air danau, ia melompat ringan, seperti anak panah yang melesat, menyelam ke dasar danau.
Dunia di dalam danau terbuka luas, dengan tumbuhan air melambai di sekeliling, membawa nuansa misteri dalam kesunyian. Luo Yu mengulurkan tangan, menciptakan gelembung kecil yang memancarkan cahaya. Batu-batu di dasar danau terhampar seperti layar, seperti mimpi yang membuat orang melupakan kehidupan yang mengambang. Tiba-tiba, kumpulan ikan putih perak melintas di sampingnya, Luo Yu menahan napas dan berusaha tenang, menjadikannya seperti sebuah batu karang yang diam. Ikan-ikan tersebut melintas di antara lengannya, cahaya dari permukaan air memantulkan sinar kecil di telapak tangannya.
Luo Yu membuka telapak tangannya, cahaya kecil itu tampak seperti nyala api lembut, tidak membakar atau panas, namun membuat telapak tangannya berpijar terang. Ia menatap cahaya tersebut, seolah bertanya pada diri sendiri di kedalaman hatinya: apa sebenarnya keberanian? Apa itu kebaikan? Saat itu, air, ikan, dan cahaya kecil seakan memperhatikan pilihannya.
Ia teringat kata-kata bijak dari seorang pahlawan tua, A Shuo, yang pernah berkata: “Kebaikan bukan hanya tentang belas kasih dan hati yang baik, kebaikan sejati adalah keberanian untuk menantang ketakutan dan mengaktualisasikan diri.” Luo Yu pernah memahami ini dengan setengah hati, namun kini di dasar danau yang luas, kata-kata itu bergaung dalam pikirannya.
Tiba-tiba, terdengar suara dari kedalaman dasar danau. Luo Yu mengarahkan pandangannya ke kejauhan dan melihat bayangan yang berkilauan di balik batu danau. Ia perlahan mendekati dasar danau, bergerak mengikuti celah-celah batu dengan warna lengan bajunya menyatu dengan rumput air, membuat gerakannya menjadi tanpa suara. Ia menahan napas dengan penuh konsentrasi, setiap gerakan tangannya hati-hati. Ketika ia menoleh, ia melihat seekor makhluk air kecil dengan mata hijau muda terjerat oleh lumut danau, berjuang dalam kesakitan, gelembung-gelembung udara bertebaran di sekelilingnya.
Hati Luo Yu tertekan, batinnya berjuang keras. Haruskah ia menyelamatkan atau tidak? Udara di dasar danau tipis, jika ia memaksa untuk menyelamatkan makhluk itu, mungkin akan menguras terlalu banyak tenaga sehingga sulit untuk kembali ke permukaan; namun jika ia mengabaikannya, makhluk itu akan semakin terjerat dalam lumut dan seiring waktu akan kehabisan nafas. Cahaya kecil di telapak tangannya seolah mendesaknya, Luo Yu menutup matanya, dan sudut bibirnya mengembang menunjukkan keteguhan.
“Bocah kecil, jangan takut, aku pasti akan menyelamatkanmu.” Luo Yu berbicara dalam pikirannya kepada makhluk air, perlahan mendekat. Satu tangannya dengan lembut melilit lumut, sementara tangan lainnya menyentuh sisik licin makhluk air itu. Lumut sangat keras sehingga sulit untuk dilepaskan. Luo Yu menyadari bahwa akar lumut memancarkan cahaya biru yang aneh, tampaknya ada sesuatu yang aneh.
Ia mengerutkan kening, pikiran terbayang akan gambaran tanaman aneh yang ia lihat sebelumnya di perpustakaan. Ia menahan makhluk air kecil itu, mengumpulkan cahaya dari dalam kalangan pahlawannya di ujung jarinya, dengan hati-hati mulai melepaskan simpul yang terjerat dengan cara menyentuh, mengusap, dan melilitnya. Sambil melakukannya, ia tetap berbicara lembut, “Jangan takut, aku tidak akan melukaimu, segera akan baik-baik saja.”
Makhluk air itu merasakan niat baiknya, mata yang sebelumnya tertutup perlahan terbuka, dan tubuhnya mulai berhenti berjuang. Namun, akar lumut yang terjerat sangat dalam, sulit untuk dibebaskan hanya dengan kekuatan. Luo Yu menemukan bahwa akar lumut menghancurkan sinar biru, tampak agak aneh.
Ia mengerutkan kening, berusaha memikirkan gambaran tanaman aneh yang ia lihat sebelumnya. Ia memegang makhluk air itu, memusatkan cahaya dari kalangan pahlawannya di ujung jarinya, dengan bersabar membebaskan setiap simpul dengan cara menyentuh, mengusap, dan melilitnya. “Jika kau adalah temanku, jangan menyerah, percayalah padaku.”
Seiring jarinya lembut mengusap, cahaya lumut perlahan memudar, akarnya mulai melonggar. Sisik makhluk air memantulkan cahaya dari telapak tangan Luo Yu, seolah membalas dengan terima kasih yang bersinar. Akhirnya, simpul biru terakhir terlepas, makhluk air itu melompat dengan kuat, melingkari Luo Yu sebanyak tiga kali, mengeluarkan suara air yang merdu "gulu gulu". Dengan lembut, ia melingkari pergelangan tangan Luo Yu dengan ekornya, lalu melepaskannya dengan lembut, mengekspresikan keakraban.
Saat Luo Yu berencana menarik tangannya kembali, terdengar gelombang halus. Sebuah pintu batu raksasa di dasar danau perlahan dibuka oleh aliran air, seolah menyimpan rahasia besar. Makhluk air itu menepuk telapak tangannya dengan kepalanya, seolah mengundangnya untuk menjelajah. Luo Yu menatap pintu batu tersebut, cahaya kecil menerangi wajahnya, mencerminkan rasa ingin tahunya sebagai seorang pemuda dan kewaspadaan pahlawannya.
“Aku bersamamu, tidak akan membiarkanmu sendirian.” Luo Yu berkata lembut, dan bersama makhluk air itu, mereka menyelam ke dalam kedalaman pintu batu. Ia menggunakan cahaya kecil di tangannya untuk menerangi jalan di depan, hati-hati setiap langkah. Di balik pintu batu, ada pusaran yang berputar, seolah ada kekuatan aneh yang menarik mereka berdua. Luo Yu bersama makhluk itu memasuki pusaran, dan seketika, pemandangan di depan berubah sepenuhnya.
Ternyata di dalam pintu batu itu terdapat "jantung" Danau Biru—sebuah gua kuno yang misterius di dasar danau, dikelilingi oleh tumbuhan air bercahaya, dan kristal putih perak menggantung di atap, menerangi dunia yang penuh misteri ini. Makhluk-makhluk air kecil bermain di sana, mata mereka berkilau dengan rasa percaya dan rasa ingin tahu. Hati Luo Yu menghangat, melihat sekeliling, lalu menatap cahaya kecil di telapak tangannya, ia mengerti bahwa ia telah melangkah ke sebuah tanah keajaiban.
Ia perlahan-lahan menurunkan langkahnya, merasakan rasa hormat yang mendalam. Danau Biru melahirkan semua kehidupan ini, penuh kasih sayang dan pengertian yang jauh melampaui imajinasi. Makhluk-makhluk air mengepungnya, dan seekor makhluk kecil berkepala bulat menggigit ujung jubahnya, menatapnya dengan penuh harap. Luo Yu membungkuk dan memandangnya, “Apakah kalian sedang menunggu aku menceritakan kisah?”
Makhluk-makhluk air itu mengeluarkan suara "chu chu", membentuk lingkaran di sekelilingnya. Luo Yu tersenyum, ia menggambar gelombang danau dengan cahaya kecil di telapak tangannya, menangkap setiap aliran air, dan mulai menceritakan legenda pahlawan di bawah Gunung Yunshen. Ia mengatakan bahwa pahlawan tidak selalu harus mengarungi dunia dengan pedang; berani menghadapi ketakutan dalam diri, memperlakukan kehidupan yang lemah dengan baik, bahkan jika itu hanya seekor makhluk kecil yang terjebak dalam kesulitan, juga pantas untuk dijaga sepenuh hati.
Suara tawa dan bahagia bergema di dasar danau, dan ikan-ikan juga datang mengunjungi. Cerita Luo Yu semakin menarik, terkadang ia menggunakan cahaya untuk menggambarkan hutan bambu, terkadang menggunakan energi sejatinya untuk menggoyangkan rumput air, menciptakan ritme; makhluk-makhluk air terkadang bertepuk tangan, terkadang mengipasi ekor mereka dengan sorakan. Di udara terasa hangat dan ceria, seolah jauh dari segala keributan.
Saat momen bahagia itu, dinding danau di kejauhan tiba-tiba bergetar, dan kerang raksasa berwarna biru di dasar danau perlahan membuka, mengeluarkan sebutir air merah tua. Hati Luo Yu berdesir, ini adalah mutiara di tengah danau yang hanya dapat dilihat oleh mereka yang memiliki hati yang murni, berani menantang diri sendiri. Luo Yu menatap mutiara itu, pikirannya berkecamuk. Apakah ini adalah akhir perjalanannya?
Tetapi ia berpaling, melihat makhluk-makhluk kecil yang mengelilinginya, melihat tatapan penuh kasih sayang dari makhluk air, ia menyadari bahwa terlepas dari apakah ia mendapatkan mutiara atau tidak, hatinya telah bersih. Ia berbicara lembut kepada makhluk air, “Hari ini, aku tidak mendapatkan harta karun atau legenda, tetapi kepercayaan kalian.”
Kerang besar itu berkilau dengan cahaya kecil, seolah tersenyum. Mutiara di tengah danau perlahan melayang ke arah Luo Yu, tetapi ia tidak terburu-buru untuk meraih. Ia menutup mata, menyatukan kedua tangannya, dan dalam hati berdoa, “Semoga harta Danau Biru terus melindungi makhluk kecil, dan semoga aku dapat kembali ke duniamu dengan kebaikan dan keberanian.”
Gua di dasar danau memancarkan cahaya lembut. Luo Yu dengan diam-diam mendorong mutiara di tengah danau kembali ke mulut kerang raksasa, memberikan hormat yang dalam kepada dunia di dasar danau itu. Makhluk-makhluk air berdesakan maju, berputar di sekelilingnya dan tidak mau membiarkannya pergi.
Luo Yu tersenyum tipis, berkata lembut, “Jika kita memiliki nasib baik, kita akan bertemu lagi. Aku pasti akan kembali.” Setelah itu, ia menggunakan keterampilan pencuri airnya yang gesit, membawa perhiasan kerang yang diberikan oleh makhluk air, dan menyelam kembali ke permukaan Danau Biru. Ia tidak menoleh lagi, tetapi tahu bahwa dunia di dasar danau itu telah meninggalkan cahaya abadi di dalam hatinya.
Pagi menjelang, ia berdiri di tepi danau, bajunya menyatu dengan air danau, biru dengan sedikit putih. Luo Yu membuka telapak tangannya, cahaya kecil itu masih bergetar, seolah mengingatkan betapa berharganya setiap langkah perjalanan. Sejak saat itu, Danau Biru di bawah Gunung Yunshen memiliki sebuah legenda baru: pemuda pahlawan yang memegang cahaya kecil, menantang batasan dan tetap tidak melupakan kebaikan, adalah sinar terlembut di dasar Danau Biru.
