🌞

Di bawah pohon cahaya bulan, duduk tenang mendengarkan suara dewa.

Di bawah pohon cahaya bulan, duduk tenang mendengarkan suara dewa.


Zaman kuno, bumi diam dan misterius, dengan cahaya keemasan yang lembut selalu menghiasi langit, angin sepoi-sepoi menerpa kanopi pohon yang hijau subur. Hutan yang hijau dan menjulang tinggi telah menyaksikan tak terhitung banyaknya cerita yang hanya sekejap. Di tepi danau dari hutan yang damai ini, seorang pemuda duduk tenang, namanya Aiyenes.

Aiyenes adalah pemuda legendaris dari hutan. Ia mengenakan jubah ringan yang berurai, lengan jubahnya bergetar mengikuti angin, seperti awan kecil yang baru muncul di cahaya pagi. Rambutnya bergerak lembut, wajahnya dihiasi oleh dedaunan lebat dan cahaya matahari yang tersebar. Bayangan pohon yang hijau seakan melingkupi dunia damai yang menjadi miliknya dengan tangan tak terlihat.

Hari ini, pemuda itu duduk tenang di tepi danau, cahaya jingga keemasan berkilau di permukaan air, setiap riak mencerminkan pikirannya. Aiyenes menjalani jalan pemisahan benda, sebuah ajaran yang paling mendalam dari dunia dewa Barat. Ia tahu, jika hati terikat oleh masa lalu, itu seperti kabut yang menutupi bintang yang paling terang. Ia duduk di atas batu pualam yang datar dan kokoh, menghadap sebuah kotak kayu yang berisi berbagai barang kecil yang telah ia bawa sejak hari kelahirannya.

Embun pagi jatuh seperti permata perak di atas lumut, burung-burung di dekatnya berkicau lembut. Aiyenes menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkan barang pertama. Itu adalah sebutir kerikil hijau, halus dan hangat saat disentuh. Ia berbisik sendiri, "Aku ingat, ini adalah hadiah pertama yang diberikan oleh nenek moyangku." Kerikil itu terletak di telapak tangannya, ia merasakan sedikit rasa melekat—dalam ingatan, ada suatu kehangatan yang terjebak di masa lalu.

"Jika aku terus membawa kerikil ini, apakah aku tidak akan bisa melepaskan masa lalu?" Aiyenes merasakan keraguan dalam hatinya.

Ia dengan lembut mengelus kerikil itu, menyuntikkan sedikit tenaga spiritual, lalu diletakkannya dengan hati-hati di atas rumput hijau. Ia memahami, merindukan bukan berarti bergantung pada kepemilikan, tetapi belajar untuk mengucapkan selamat tinggal setelah berterima kasih.




Angin sepoi-sepoi menembus pohon cedar yang tinggi, mengalirkan rambutnya yang gelap. Saat ia meletakkan kerikil, ia merasakan suatu simpul dalam hatinya mulai longgar. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah papan kayu yang diukir. Ini adalah jimat yang diberikan oleh seorang penebang kayu misterius, Diserio, ketika ia menghabiskan musim dingin pertamanya sendirian di hutan.

Papan itu terukir dengan simbol-simbol yang rumit, dan Aiyenes membelai ukiran tersebut dengan ujung jarinya. Di musim dingin itu, ia tersesat dalam badai salju, dan Diserio membawanya kembali ke tempat perlindungan, memanggang api, berbagi kastanye manis, dan mengajarinya merajut tali dari daun. Rutinitas masa lalu muncul kembali dalam ingatannya.

"Pemisahan benda, bukan hanya melepaskan barang-barang lama, tetapi juga melepaskan ketergantungan hati yang lembut..." Aiyenes berkata kepada dirinya sendiri. Ia menutup matanya, meletakkan papan kayu di telapak tangannya, dan bernapas perlahan mengikuti ritme detak jantungnya, "Terima kasih telah menemani aku melewati musim dingin itu."

Belum selesai ia berbicara, di antara sinar lembut air danau, muncul sosok bayangan. Aiyenes terkejut melihat seorang gadis yang mengenakan jubah hijau tua perlahan mendekat dari dalam bayangan air. Namanya adalah Tongsitya, peri air di tepi danau.

"Aiyenes, jika kau benar-benar ingin memisahkan diri, maukah kau mengembalikan barang-barang lama ke dalam air, membiarkan sarang di tengah danau menghirup kembali masa lalu?" Suaranya merdu seperti aliran sungai.

Aiyenes mengangkat papan kayu itu dan melangkah menuju tengah danau. Ia dengan lembut meletakkan papan tersebut ke dalam air, papan itu melayang mengikuti arus. Permukaan danau segera memancarkan cahaya hijau. Tongsitya tersenyum dan berkata, "Kau telah memahami arti melepaskan, sehingga kau bisa benar-benar maju."

Malam semakin gelap, bintang-bintang memantulkan diri di permukaan danau. Aiyenes terus mengeluarkan barang lama ketiga dari kotak kayu, yaitu seutas tali merah tipis. Tali itu terikat di sudut dasar kotak, mengingatkannya pada permainan bertarung yang tidak sengaja ia ikat bersama seorang teman lama bernama Lukaen. Cinta dan perselisihan, tawa dan air mata, semuanya terjalin dalam tali merah yang tipis ini.




"Lukaen menjauh karena salah paham, dan tali merah ini selalu tersembunyi dalam bayang-bayang hatiku..." Aiyenes berkata pelan.

Tongsitya melihatnya tanpa berkata, tatapannya memberikan dorongan. Aiyenes mengumpulkan keberanian, memutuskan untuk melepaskan. Ia mengambil tali merah, menyeberangi jalan setapak yang berkelok di tepi danau, dan menemukan pohon di mana Lukaen sering duduk sendiri. Di sana semak-semak lebat, jamur putih menunduk menyambut.

Aiyenes memanggil dengan lembut, "Lukaen, ingatkah kau akan waktu kita bersama mengejar fajar?"

Setelah beberapa saat, Lukaen muncul dari semak-semak dengan ekspresi terkejut, dengan mata emasnya bersinar dengan rasa ingin tahu dan nostalgia. "Aiyenes, kau masih ingat tali merah itu?"

"Setiap kali aku memikirkan salah paham, rasa bersalah selalu mengganggu hatiku. Tali merah ini adalah saksi persahabatan kita. Hari ini, aku ingin mengembalikannya padamu, dan melepaskan keterikatanku pada masa lalu." Aiyenes menyerahkan tali merah kepada Lukaen, suaranya bergetar tetapi tegas.

Lukaen menerima tali itu, tatapannya tertuju pada Aiyenes, dan mereka tersenyum bersamaan. Mereka saling mengikat janji dengan tepuk tangan, berpelukan, seolah kebisingan telah pergi, dan segalanya dapat dijawab dengan ketulusan.

Cahaya bulan perak di tepi danau jatuh tenang, dan Aiyenes kembali ke batu pualamnya. Di dalam kotak kayu masih ada satu barang terakhir, yaitu selembar kertas kuning yang mulai pudar. Itu adalah puisi yang ditulis oleh Mefuan, gadis yang pernah ia sukai, yang ia sembunyikan di antara pepohonan—setiap kata berkilau seperti embun yang menggambarkan cinta yang masih muda.

Aiyenes tersenyum, membaca baris terakhir di kertas itu: "Bunga yang mekar pada akhirnya akan rontok, setiap pertemuan pasti ada batasnya. Semoga menjaga kelembutanmu di setiap musim." Kenalan, pengertian, dan saling menghargai, semua momen manis bergetar di antara danau hati. Ia dengan lembut membakar kertas itu di api kecil di tepi danau, asap hijau berputar-putar menghilang ke langit malam.

Saat itu, ia merasakan tubuh dan pikirannya menjadi sangat ringan, seperti beban telah terangkat. Setiap barang lama adalah tempat pelepasan dan janji masa lalu, dan jalan pemisahan membuatnya belajar untuk menghargai sekaligus belajar untuk mengucapkan selamat tinggal.

Udara dipenuhi dengan aroma pinus khas hutan dan kabut pagi, air danau tidak lagi sekadar cermin yang mencerminkan langit berbintang, melainkan sebuah pintu menuju masa depan yang lebih jernih dan bebas. Tongsitya di tepi air berkata lembut, "Latihan sejati bukanlah melupakan masa lalu, melainkan berani untuk menjadi diri yang lebih utuh."

Aiyenes menutup kotak kayunya, menarik napas dalam-dalam, dan menatap bintang-bintang yang berkilau. Malam ini hutan sepi dan indah, ia berpikir bahwa setiap langkah dalam hidup memiliki perpisahan dan pertemuan, setiap kali melepaskan dapat membawa pertumbuhan, tidak perlu terjebak dalam barang lama, dan tidak perlu peduli setiap detik masa lalu. Hanya dengan begitu, hati akan bersinar seperti danau, dan ia bisa benar-benar memeluk masa depan yang menjadi miliknya.

Burung bulbul menyanyikan lagu lembut dari jauh, segala sesuatu di tepi danau tenang dan damai. Aiyenes menutup matanya, dalam kehadiran cahaya bintang dan bayangan pohon yang hijau, ia tertidur dengan nyenyak, menunggu sinar pertama fajar yang kembali menerangi perjalanannya yang baru.

Semua Tag