Di kedalaman laut yang biru, tenang seperti mimpi. Gelombang membelai serpihan perak, karang berwarna-warni mengembang seperti lautan bunga, istana naga tenang terletak dalam pelukan biru tua, jauh dari hiruk-pikuk dan kekhawatiran dunia. Di sini, setiap jalan diaspal dengan kerang yang halus dan batu permata yang berkilau, setiap tiang karang dihiasi dengan ukiran kuno yang aneh. Ikan bercahaya melayang perlahan di bawah atap istana naga, seolah waktu juga terpengaruh oleh ketenangan tempat ini, tidak lagi berputar.
Hari itu, arus sedikit mendorong seorang pemuda, namanya Arvan. Arvan memiliki sepasang mata cokelat yang jernih, seringkali menyimpan ragu dan keraguan. Dia menjelajahi hutan biru di dasar laut, jari-jarinya kadang-kadang mengusap pola keras dari karang kuno, namun dia tidak terpesona seperti pengunjung lain. Hatinya seakan selalu tertarik oleh sesuatu yang hilang.
Pada hari itu, Arvan menemukan jalan baru yang jarang dilalui. Dia melingkarkan tubuhnya melalui pintu kecil di istana naga yang dipenuhi ukiran kerang, dan terlihat di ujung lorong adalah cahaya biru tua yang lembut. Saat dia mendekat dengan rasa ingin tahu, dia mendengar suara gelombang kecil di dalam air.
"Kau... juga pertama kali ke sini?" Suara lembut datang dari sampingnya.
Itu adalah seorang pemuda yang tampak anggun, dengan warna rambut yang berkilau sedikit perak, bersinar dengan keindahan yang aneh di bawah pantulan air. Namanya Yuxi. Yuxi sedang duduk di atas batu karang bercahaya, memegang sebuah buku gambar yang menguning, dengan ekspresi yang tampak santai namun menyimpan kesepian yang tak terhindarkan.
Arvan berhenti sejenak, sedikit gembira dan agak cemas, menjawab, "Ini pertama kalinya saya… tempat ini tampaknya jarang dikunjungi."
Sudut mulut Yuxi tersenyum sedikit, "Kau juga ingin mencari sesuatu, kan? Tidak mungkin orang datang ke sini hanya untuk bermain."
Arvan terdiam sejenak, hatinya merasa sedikit malu seolah tertangkap basah. Dia secara naluriah menghindari tatapan Yuxi, dan berbisik, "Aku hanya... punya beberapa hal yang ingin dimengerti."
Yuxi tidak mengejar lebih jauh, juga tidak mengejek, hanya dengan lembut menepuk batu karang di sampingnya, "Mau lihat galeri istana naga di sini? Aku baru menemukan beberapa pola yang sama dengan apa yang aku lihat dalam mimpiku."
Arvan ragu sejenak, lalu mengumpulkan keberanian dan perlahan berjalan mendekat. Dia duduk di samping Yuxi, pikiran tentang kekhawatiran dan rahasianya melayang, merasa seolah ada seseorang yang bisa diajak berbicara tidak semenyusahkan yang dia bayangkan.
Keduanya berjalan perlahan di jalan kecil yang dikelilingi kerang, mengamati dinding yang dipenuhi mural yang menggambarkan kejayaan dan kesedihan masa lalu di istana naga. Pertempuran pejuang kepiting, kelahiran raja laut, dan seorang wanita dengan senyuman lembut, memeluk ikan-ikan sekelilingnya, tatapan lembut itu anehnya membuat Arvan merasa tenang.
"Wanita ini..." Arvan berkata pelan, "sepertinya pernah kulihat di suatu tempat..."
Yuxi menutup matanya, meletakkan tangan di atas gambar wanita itu, dan berbisik, "Aku sering bermimpi tentangnya. Dia akan berada di bawah pohon bunga sepatu, membacakan cerita untukku. Tetapi setelah aku terbangun, aku tidak bisa mengingat namanya."
"Kau juga bermimpi?" tanya Arvan dengan terkejut.
Yuxi terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku selalu merasa ingatanku disembunyikan oleh sesuatu... tempat ini, setiap dinding, setiap cahaya, seolah dapat membangkitkan sedikit rasa masa lalu, tapi semua terasa kabur."
Arvan menyentuh siluet lembut wanita di mural, muncul perasaan aneh yang akrab dan sedih. "Aku juga... banyak hal yang tidak bisa diingat, terutama tentang ingatan ibuku."
Yuxi menatapnya, dengan sedikit empati di matanya, ia berkata pelan, "Mungkin, inilah takdir kita bertemu."
Di ujung galeri istana naga, ada sebuah pintu besar yang berat terbuat dari mutiara. Arvan tidak bisa menahan untuk membuka pintu itu, terlihat di dalam adalah sebuah ruang perpustakaan kecil yang tua. Rak buku penuh dengan buku cerita yang menguning, di sudut meja ada sebuah kerang halus dengan pola terjalin di atasnya. Di tengah ruangan, ada cermin kecil yang memantulkan gemerlap bintang-bintang di lautan dalam, seolah dapat mencerminkan bayangan ingatan.
"Look at that mirror." Yuxi mendekat terlebih dahulu, berkata lembut, "Apakah kau berani mencobanya sekali, untuk melihat masa lalu kamu?"
Jantung Arvan berdebar cepat, jarinya perlahan menyentuh bingkai cermin. Saat dia menyentuh pola kerang, ia merasakan aliran listrik mengalir di telapak tangannya, dan di kepalanya seketika tercermin fragmen gambar: dirinya yang menatap langit malam, ibunya dengan lembut menceritakan legenda istana naga; di bawah loteng, ada seorang anak familiar mendengarkan bersamanya, wajahnya sedikit mirip Yuxi.
"Apakah yang kau lihat?" Yuxi mendengar getaran emosional Arvan, bertanya lembut.
Arvan tertegun, sambil sesekali terisak, "Sepertinya... kita pernah bertemu sebelumnya. Aku ingat ibuku selalu membacakan cerita setiap malam, selalu ada seorang anak laki-laki mendengarkan, anak itu adalah kamu... tapi kenapa ingatanku begitu kabur..."
Jari Yuxi perlahan menggenggam, matanya berkilau dengan campuran harapan dan ketakutan. Ia perlahan bergerak ke cermin, memandang bayangannya yang berputar, dan berkata lembut, "Aku juga ingat. Aku ingat saat itu kau selalu gegabah menarikku untuk mencari bintang laut, lalu... kau tiba-tiba pergi, tidak mengatakan apapun."
Kedua orang tersebut terdiam dalam perpustakaan, keheningan yang lama terpendam mulai meresap. Celah yang tertutupi lama, seiring ingatan yang muncul, seperti bekas luka di dasar laut, perlahan-lahan sembuh.
"Apakah kau mau... mencariku lagi untuk mengingat masa lalu?" Yuxi tidak mendengar suaranya bergetar, tetapi tatapannya penuh dengan keberanian.
Arvan menatap ke atas, memandang Yuxi dalam-dalam. Meskipun hatinya masih ketakutan, ia menemukan, saat keduanya berada di satu sudut, lapisan kesepian yang tebal seperti mulai menghilang. Ia mengangguk, seakan mengucapkan janji penting pada dirinya sendiri: "Aku mau, tidak hanya ingatan, tetapi juga masa depan kita."
Maka, di balai yang tenang dan luas itu, kedua orang itu memasuki kedalaman istana naga, setiap sudut yang tidak diketahui menyimpan keajaiban dan ujian.
Saat mereka memasuki dapur tua istana naga, udara dipenuhi aroma alga yang ringan dan kehangatan yang familiar. Yuxi dengan gembira menarik keluar sebuah kotak kayu kecil yang berlumut, yang ternyata penuh dengan jurnal dan surat-surat masa lalu. Arvan membuka salah satu buku, dan menemukan tulisan tangannya: "Kepada Yuxi tersayang, terima kasih telah berpetualang bersamaku, meskipun aku sering tersesat..."
Yuxi membaca sambil tersenyum, "Tak kusangka kau sangat suka tersesat... tapi syukurlah, setiap kali kau selalu membawaku berlari, tak pernah benar-benar meninggalkanku."
Arvan hanya tersenyum tipis, jarinya perlahan menggeser halaman kertas. Ia tiba-tiba berhenti, membaca beberapa halaman yang ditusuki kerang tiga dimensi. "Lihat di sini... kita pernah berjanji..."
"Bersama menemukan hati istana naga." Yuxi tidak sengaja melanjutkan, dengan ekspresi serius. "Itu adalah batu permata yang konon mampu menyembuhkan semua luka."
Arvan menutup jurnal, berkata pelan, "Mungkin itu adalah tujuan kita kali ini."
Untuk memenuhi janji yang hilang, keduanya mengikuti petunjuk jurnal jadul, melewati taman kristal yang berkelok, memasuki labirin aneh di dasar laut. Di tengah perjalanan, Arvan pernah terjebak oleh ubur-ubur yang mengeluarkan ilusi, awalnya dia kebingungan, terjatuh ke dalam samudera ingatan. Tapi Yuxi memegang tangan Arvan erat, dengan sabar membisikkan di telinganya, "Arvan, kau tidak sendirian. Aku menemanmu, kita akan keluar bersama."
Ketakutan dan ketidakberdayaan Arvan perlahan-lahan diredakan oleh suara Yuxi yang tulus dan sentuhan hangatnya, dia melihat diri kecilnya yang kesepian dalam ingatan, ditarik keluar dari kegelapan oleh Yuxi, di sampingnya bersinar cahaya bintang. Saat ilusi itu pecah, dia mendapatkan kembali keberaniannya, menggenggam erat tangan Yuxi. Saat itu, dia menyadari bahwa tidak peduli seberapa sulitnya, selama mereka berjalan bersama, pasti bisa mengatasinya.
Di ujung labirin, terdapat sebuah istana biru laut yang megah, pintunya dihiasi dengan kerang dan karang yang halus. Di depan pintu, ada seorang penjaga—seekor lobster raksasa yang sedang terlelap. Arvan berbisik di telinga Yuxi, "Bagaimana kita membuatnya terbangun?"
Yuxi merendahkan suaranya, tersenyum lembut, "Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan kekuatan. Aku ingat dalam cerita istana naga, lobster paling takut pada suara, mungkin kita bisa mencari cara..."
Arvan menemukan ide, segera mengambil kerang berwarna-warni, mengetuknya dengan lembut, mengeluarkan ritme halus namun tidak teratur. Mereka berdua bekerja sama, membuat suara ketukan naik turun, lobster itu benar-benar mengerutkan dahi, tidak sabar berbalik dan melarikan diri mencari ketenangan.
Mereka tidak dapat menahan tawa. Yuxi menepuk pundaknya, "Masih bilang sering tersesat, padahal sebenarnya kau cerdas!"
Pintu istana perlahan terbuka, cahaya yang menakjubkan di dalamnya tampak seperti mimpi. Di tengah, terdapat hati istana naga yang bersinar dengan lembut. Arvan dan Yuxi bertukar pandang, mata mereka dipenuhi sinar terima kasih satu sama lain. Dengan satu langkah demi satu langkah, mereka mendekati batu permata itu, cahaya itu seolah menyentuh jiwa mereka dengan lembut.
Arvan menyentuh hati istana naga, seketika aliran hangat menyebar ke seluruh tubuhnya. Kesedihan dan kesepian yang berlarut-larut dalam pikirannya seolah terbuang oleh cahaya, semua fragmen masa lalu tersusun kembali dengan lembut. Dia ingat pelukan ibunya, ia berkata dengan lembut, "Keberanian sejati bukan melupakan rasa sakit, melainkan belajar melangkah dengan luka."
Yuxi juga melihat masa lalunya yang hilang dalam cahaya. Ia melihat dirinya dan Arvan bersama mendengarkan cerita di bawah bintang malam, berlomba mencari kerang di lautan. Malam-malam kesepian itu teradaptasi menjadi hangat dalam kebersamaan dan tawa. Ia perlahan mengerti, bahwa beberapa kesedihan tak sepenuhnya menghilang, namun bertransformasi menjadi ketahanan dan kelembutan, membuat keduanya menjadi lebih utuh.
"Yuxi, apakah kamu ingat pertama kali kita menyelam ke sini? Kau takut gelap, jadi aku menjadi pemandu kamu." Arvan berkata lembut.
Mata Yuxi sedikit basah, tetapi ia mengangguk serius, "Dan setiap kali kau tersesat, aku selalu bersamamu... kau tidak pernah sendirian."
Keduanya duduk diam di aula istana naga, bahu berdampingan berbagi kisah yang telah ditemukan kembali. Arvan berkata pelan, "Persahabatan itu benar-benar luar biasa, ternyata malam satu orang bisa menjadi cerah karena ada orang lain."
Yuxi menepuk-nepuk hati istana naga dengan jarinya, merasakan kehangatan itu. "Tempat di mana kamu berada adalah rumah."
Mereka saling bertatapan sekali lagi, meskipun kata-kata jarang muncul, tetapi mereka sudah mengukirnya dalam hati. Celah-celah masa lalu itu tak lagi menjadi bekas luka, tetapi menjadi jembatan yang mendekatkan satu sama lain.
Di kedalaman laut biru ini, dalam waktu yang jauh, dua pemuda yang pernah tersesat menemukan satu sama lain, dan juga menemukan diri mereka yang utuh. Cahaya bintang di malam laut berkilau, dalam cahaya istana naga dan persahabatan, jiwa mereka mendapatkan penyembuhan yang terdalam.
Sejak saat itu, setiap kali ombak lembut membentur pintu istana naga, Arvan dan Yuxi akan kembali ke dunia biru yang misterius ini, melanjutkan petualangan baru, menuliskan cerita mereka di antara pasir halus dan cahaya mengalir. Tidak peduli seberapa jauh masa depan, mereka masing-masing akan selalu mengingat, pada musim panas tahun itu, persahabatan di istana naga begitu hangat seperti cahaya.
