🌞

Penyihir melintasi jalan-jalan neon.

Penyihir melintasi jalan-jalan neon.


Kota neon dengan menara tinggi, takkan pernah tidur. Dalam malam, ribuan lampu membentuk aliran warna, seperti karya seni berwarna-warni yang disemprotkan oleh seorang maestro tak terlihat di kanvas langit. Aifyo berdiri di tepi sebuah gedung, di bawahnya ada angin kencang yang melolong dan lautan lampu kota yang memantulkan mimpi. Dia memegang sebuah jam saku dengan pola metalik, satu-satunya bukti pertemuannya dengan sesuatu yang misterius di malam pertama.

Saat ini, detak jantungnya seirama dengan denyut nadi kota. Ia menoleh, sebuah bayangan perak muncul di sampingnya, seorang dewi dari Barat bernama Ehlari. Ehlari tidak seperti penyihir yang dikenang dalam legenda dengan jubah hitamnya, ia mengenakan jas berwarna silver abu-abu, rambut panjangnya yang putih dis braid menjadi tiga, dan pupil matanya berwarna keruh bersinar di dalam gelap malam. Melihat Aifyo yang menarik napas dalam-dalam, Ehlari tersenyum tipis dan berkata, "Takut?"

"Ini bukan ketakutan, ini kegembiraan," Aifyo menurunkan suaranya, matanya berkilau dengan tekad dan keinginan, "Apakah kita akan turun dari sini?"

Ehlari tersenyum ringan, telapak tangannya memunculkan sebuah rune yang bersinar seperti meteor, "Ingat, ini bukan petualangan biasa. Apa yang kami cari akan mengubah nasib seluruh kota ini."

Mereka melompat bersebelahan, meluncur melewati layar iklan yang berkilauan dan menara kaca tak berujung, soles sepatu mereka melukai udara, menghasilkan suara gesekan yang dalam dan merdu. Angin malam kota menyapu rambut Aifyo, matanya fokus, merasakan dirinya terbang di antara waktu dan realitas.

Saat mendarat, keduanya diam-diam menyusup ke dalam sebuah gedung kantor yang kosong. Di sekitar mereka hanya ada cahaya biru redup dari lampu tidur komputer, selain rune yang bersinar di tangan Ehlari. Aifyo menyentuh jam saku di pinggangnya dengan jarinya, itu adalah kunci dari pencarian harta ini. Ia bertanya perlahan, "Mengapa kita mencari benda yang hilang ini?"




Ehlari perlahan menempelkan runenya pada celah pintu, cahaya kecil bersinar dan seketika menyebar, seolah-olah kabut perak mengalir di sekelilingnya. "Di dalam jam saku ini terperangkap potongan yang disebut Kristal Shinair, konon merupakan pecahan jiwa dari seorang pelindung kuno yang ditinggalkan di dunia ini. Jika ia jatuh ke tangan orang yang serakah, masa depan kota akan terjun ke dalam kegelapan."

Dalam kegelapan, jantung Aifyo berdetak seperti suara genderang. Ia teringat ibunya yang selalu berkata, "Setiap kota memiliki jiwa, juga ada mimpi." Ia dengan nada rendah bertanya, "Tapi kemana kita akan mencarinya?"

"Ikuti aku," Ehlari mengayunkan tangan dengan lembut, dan di udara muncul jejak-jejak bayangan yang bergetar, sebuah jalur yang hanya dapat dilihat oleh para dewa. Mereka merangkak maju, menaiki tangga yang berkelok-kelok. Setiap langkah yang mereka ambil, lautan lampu di luar jendela semakin jauh, seolah semua peradaban tenggelam dalam jurang kesunyian, hanya suara langkah Ehlari yang bergema dalam kegelapan malam.

Mereka berhenti di depan kamar rahasia di lantai atas, pintu depan dilengkapi dengan pengunci kode yang rumit. Ehlari menyentuh dinding, ujung jarinya meluncur membentuk lengkungan yang indah, melafalkan mantra kuno yang aneh. Tombol angka bersinar lembut, perlahan menghilang ke dalam dinding, memperlihatkan sebuah slot gelap.

Di dalam slot gelap itu, sebuah kaca yang diukir dengan simbol spiral berdiri dengan tenang. Mata Ehlari yang perak tampak sangat misterius di dalam cahaya malam dan cahaya kaca. Aifyo ragu sejenak, "Apakah ada jebakan di sini?"

"Manusia adalah jebakan yang paling sulit untuk dihindari," Ehlari menjawab datar, nada suaranya penuh dengan kebijaksanaan bercampur bintang.

Ketika Aifyo ingin bertanya lebih lanjut, dari dalam ruangan terdengar suara berat benda jatuh dan napas cepat. Aifyo segera melompat ke dalam, melihat sosok tangkas berpakaian jaket hitam yang terjatuh di samping rak logam, sedang mengambil kotak kristal yang tersembunyi dalam kegelapan.




Ehlari melambaikan tangannya, aliran cahaya perak menaklukkan pihak tersebut. Orang berpakaian hitam itu berjuang dan melepas topinya, sepasang pupil hijau tua bergetar penuh ketakutan. Aifyo mendekat, menahan tangannya yang terulur, dan bertanya dengan suara dalam, "Siapa kamu?"

Gadis itu tersenyum dingin, "Akan ada yang mengingat nama 'Hain'."

Ehlari menatapnya, nadanya dingin seperti embun beku, "Nama itu... adalah petunjuk yang ditinggalkan oleh pelindung Shinair di masa lalu!"

Tangan Hain menggenggam erat kotak kristal, senyum cerdik terukir di sudut bibirnya, "Jika kalian ingin harta ini, apakah kalian juga bersedia membayar harganya?"

Alis Aifyo menyatu erat, ia berbalik bertanya kepada Ehlari, "Apa yang harus kita lakukan?"

Ehlari dengan tenang berjongkok, sejajar pandangannya dengan Hain, "Harta itu tidak boleh jatuh ke tangan orang-orang yang memiliki niat jahat, kami hanya ingin melindungi jiwa kota. Jika kau mau mempercayai kami, aku bisa menceritakan semua cerita di sini."

Kesangsian melintas di mata Hain, lalu nada suaranya sedikit suram, "Aku hanya ingin menjadi saksi keajaibannya. Ayahku memberitahuku bahwa harta ini pernah mengubah nasib kota ini, mungkin ia dapat membantuku menemukan kerabat yang hilang."

Aifyo berkata lembut, "Mungkin kita bisa memenuhi keinginan ini bersama-sama."

Ketiga orang saling bertatapan, mengucapkan janji singkat di malam yang sunyi, cahaya lampu menciptakan bayangan yang bersatu.

Ehlari mengeluarkan sebuah liontin safir kecil dari dalam bajunya dan meletakkannya di samping kotak kristal, "Untuk mengaktifkan Kristal Shinair, ketiga orang harus bersatu. Aku akan melafalkan mantra, kalian ikuti aku."

Lampu kuning redup dalam ruangan menyentuh wajah mereka, Ehlari melafalkan mantra yang asing dan panjang, tulisan mantra mengalir menjadi pola cahaya yang melayang di dinding. Aifyo menyentuh kristal dengan lembut, sementara Hain memasukkan liontin ke dalam slot. Cahaya perak dan biru berpadu, memunculkan sebuah kristal yang berdenyut seperti jantung, mengeluarkan suara rendah.

"Segera, satukan jam saku dan kristal ini!" Ehlari berkata dengan cepat.

Aifyo dengan petunjuknya, perlahan membuka jam saku dan meletakkannya di atas kristal. Seketika, seluruh ruang bergetar tidak menentu, lampu kota seolah-olah tiba-tiba memudar, hanya tinggal kristal berdenyut seperti jantung.

Cahaya lembut mengalir dari dalam kristal, menyebar ke sekeliling. Aifyo terkejut menemukan banyak potongan kenangan muncul di benaknya: anak-anak berlari di hujan, seorang pria tua tersenyum menggenggam tangan pedagang, orang-orang berjuang demi mimpi mereka, kota yang berubah-ubah dalam waktu namun tetap bersinar dan tangguh.

"Ini adalah jiwa sejati sebuah kota," Ehlari berbisik, "Ia terbuat dari mimpi dan keberanian setiap orang. Kristal Shinair menghubungkan semua kekuatan ini, mengusir keserakahan dan kegelapan."

Wajah Hain menyiratkan kehangatan, ia berkata pelan, "Ternyata, yang kita lindungi bukanlah harta itu sendiri, tetapi kenangan-kenangan ini..."

Tiba-tiba, lantai bergetar, retakan cepat menyebar ke tengah ruangan. Cahaya logam dingin berkilauan di celah tersebut, seorang pria besar berpakaian jubah panjang hitam menerobos masuk ke ruang rahasia. Jarinya teraliri listrik, wajahnya tirus dan tajam, dengan pupil hitam pekat.

"Kalian sudah menemukan hartanya?" Suara pria itu dalam, membawa tekanan tak terelakkan.

"Siapa kamu?" Aifyo menggenggam jam saku, menghalangi Hain dan Ehlari di depannya.

"Namaku Laisman, salah satu pengelola kota ini. Aku telah mengawasi kalian lama, sekarang, serahkan Kristal Shinair itu padaku."

Ehlari mengangkat kepalanya, rambut perak melambai saat bergerak, tatapannya tak rendah hati dan tak sombong, "Kristal Shinair tidak bisa diberikan kepada pihak manapun, ia harus kembali ke kehendak kota. Jika kau memaksanya, hanya akan membuat kota ini kacau."

Laisman tertawa dingin, ia melambaikan petir di tangannya, menyerang ketiga orang tersebut. Hain berteriak, Aifyo menahan napas, mengumpulkan semua perhatiannya. Ehlari dengan cepat mengambil tindakan, kedua tangannya membuat lambang, memancarkan perisai berwarna emas di udara untuk menahan petir itu.

"Aifyo, sekarang saatnya kamu memilih," Ehlari berkata pelan, "Percaya pada mimpi kota ini, atau serahkan pada tangan-tangan berkuasa?"

Aifyo menatap jam saku di tangannya, kemudian kepada Hain dan Ehlari, "Aku memilih untuk percaya pada segala yang kita lindungi—mimpi, keberanian, persatuan."

Suara Aifyo meski bergetar, namun sangat tegas. Ia perlahan menyatukan jam saku dan kristal itu, kedua tangan menempel pada rune yang berkilau, melafalkan mantra yang baru saja ia ingat. Ilusi kota sekali lagi berkumpul, cahaya meluap dari bawah tanah, mengalir dan membanjiri ruangan rahasia, seperti gelombang yang menyapu seluruh malam.

Laisman semakin melemah dalam cahaya itu, sosoknya perlahan memudar, hanya meninggalkan suara terakhir, "Mimpi itu terlalu ilusif, tetapi kalian masih muda, memiliki hak untuk memilih..."

Ruangan rahasia tiba-tiba hening. Kristal Shinair berputar di udara, pada akhirnya berubah menjadi cahaya emas yang menyatu dengan jam saku Aifyo, beristirahat dengan tenang.

Hain menggenggam erat tangan Aifyo, dengan penuh semangat berkata, "Kami benar-benar berhasil!"

Ehlari tersenyum, merangkul keduanya, "Kalian bukan hanya melindungi harta, tetapi juga harapan kota."

Angin malam sekali lagi berhembus melalui jendela, Aifyo memandang jalan yang dipenuhi lampu di kejauhan, perasaan tidak nyaman di hatinya mulai sirna. Sejak saat itu, ia bukan lagi sekadar remaja kota biasa, tetapi pelindung berani kota itu. Hain tetap bekerja di kafe di kota, sesekali ia mengundang Aifyo untuk kembali ke gedung tua tersebut, duduk di bangku atas dan memandang lautan lampu yang berkilau. Ehlari terus melintas di antara neon dan bayangan, terkadang muncul, terkadang menghilang di kedalaman malam.

Setiap kali kota dalam kekacauan sesaat, Aifyo akan menggenggam jam saku di tangannya, menatap lampu yang tak ada habisnya di luar jendela. Ia tahu, selama keberanian, mimpi, dan persatuan masih ada, kota yang berkilauan ini akan terus bersinar.

Semua Tag