Di bawah aurora, Feijie meneng抬kan kepala, melihat langit malam utara yang dihiasi dengan cahaya berwarna-warni yang aneh. Dalam hatinya muncul gelombang ketidakpuasan, bergetar di tepi lumut lembut dan lembab di bawah kakinya. Pepohonan di sekitarnya menjulang tinggi ke langit, batangnya samar-samar bercahaya dengan hijau lumut kuno, seolah-olah para leluhur yang menjaga dirinya tanpa kata. Batasan hutan tampak seperti penghalang tak kasat mata, dengan mencoba menguji keberaniannya. Tangan Feijie perlahan mengelus liontin obsidian yang tergantung di lehernya, yang ditinggalkan oleh neneknya, konon memberikan keberanian dan petunjuk kepada pemiliknya.
Ia mengambil napas dalam-dalam, menghirup udara yang lembap dan wangi tanah, lalu bergumam, "Kali ini... aku harus menemukan jalanku sendiri." Begitu kata-katanya terucap, dia memegang tepi pakaiannya dengan tangan kanan, membuka lebar matanya, dan dengan tegas melangkah keluar, memasuki hutan sihir yang meskipun dikenalnya, tetap terasa jauh.
Setelah melewati deretan pohon willow perak yang rapat, Feijie merasakan sentuhan lembut sihir yang menyentuh puncak rambutnya, seolah-olah seperti bulu. Cahaya di dalam hutan terkena warna hijau zamrud, biru tua, dan ungu es dari aurora, jamur ajaib bersinar redup di dalam kegelapan, menghiasi jalannya ke depan. Dia memperlambat langkahnya, hati-hati menghindari ngengat berduri di tanah, mengalir mengikuti aliran sungai yang berkelok-kelok.
Tiba-tiba, suara lembut muncul: "Mengapa kamu melangkah ke Hutan Takdir?" Feijie terkejut dan melihat sekeliling, menemukan seekor rubah kecil berwarna perak dengan mata warna amber yang muncul dari semak-semak, ekornya terbalut cahaya bintang-bintang. Sang rubah mengangkat kepala, berkata dengan nada lembut namun tegas, "Jalan di dalam hutan ini bukan untuk hati orang biasa."
Feijie tertegun sejenak, berusaha menekan rasa gugupnya: "Nama saya Feijie. Saya datang ke sini untuk mencari kemungkinan yang menjadi milik saya. Saya ingin membuktikan bahwa saya bukan hanya bayangan orang lain, saya berharap suatu hari bisa mengambil tanggung jawab atas apa yang saya percaya seharusnya saya lakukan."
Rubah kecil mengangguk sedikit, ekornya bergoyang lembut, menunjuk ke aliran sungai di kejauhan: "Mengikuti aliran sungai, kamu akan menemukan ujian pertamamu. Ingat, keberanian sejati bukanlah menolak ketakutan, tetapi bergerak maju sambil membawanya bersamamu."
Dengan penuh rasa terima kasih, Feijie membungkuk dan melihat sang rubah menghilang di antara pepohonan. Feijie melanjutkan perjalanan mengikuti aliran sungai. Pohon-pohon tua semakin menjulang, akar-akarnya saling terjalin seolah berusaha menggenggam bumi. Perlahan, di antara bayang-bayang pohon, muncul sebuah danau bercahaya. Di tengah danau, mengapung sebuah bola kristal transparan, memantulkan wajahnya.
Ia baru ingin mendekat, permukaan air tiba-tiba bergelora, sebuah ilusi yang terbentuk oleh gelombang air menghadangnya. "Jika ingin maju, kamu harus membuka kunci keraguan dirimu sendiri. Di dalam pikiran setiap orang, ada suara yang menghentikan mereka," kata ilusi itu.
Jantung Feijie berdebar lebih cepat, dan dia mendengar bisikan suara-suara masa lalu—dia selalu dibandingkan dengan anak-anak lainnya di desa. Tak peduli seberapa keras dia berusaha, tampaknya dia hanya menjadi pelengkap bagi orang lain. Tatapan penuh belas kasih atau keraguan itu selalu mengingatkannya pada ketidakcukupan. Dia menutup matanya, mengingat ajaran neneknya: "Keberanianmu bukan karena kamu lebih baik dari orang lain, tetapi karena kamu mau jujur pada dirimu sendiri dan menghadapi kesulitan."
"Saya akui, saya pernah merasa tidak cukup baik, merasa kecil," katanya jelas, mengungkapkan luka di hatinya. "Tetapi hari ini saya berdiri di sini, ingin hidup berdampingan dengan suara-suara ini, bukan dikalahkan oleh mereka."
Begitu kata-katanya terucap, permukaan danau bergetar dan secara perlahan tenang, ilusi itu mulai menghilang, bola kristal mengeluarkan cahaya biru yang lembut. Ia melangkah maju, jari-jarinya menyentuh bola kristal, aliran energi sihir hangat masuk ke tubuhnya, membawa kekuatan yang kokoh dan mantap.
Di tepi danau terdapat sebuah jalan kecil yang samar-samar berkilau, menerangi jalannya ke depan. Feijie melanjutkan berjalan di atas jalan cahaya tersebut, tidak lama kemudian tiba di bagian terdalam hutan. Udara di sini sangat kaya, aroma sihir melingkupi sekeliling. Begitu ingin melangkah masuk, serangkaian suara sayap bergetar halus terdengar. Dia mengikuti suara itu dan melihat seekor burung malam dengan sayap hijau, menyanyikan melodi yang tersusun menjadi sebuah simfoni yang fantastis.
"Usahamu sia-sia," suara burung malam berbunyi merdu, melodi itu diselingi dengan ejekan dan kesedihan, "Terkadang, perjuanganmu tidak akan terlihat oleh siapa pun, dan tidak akan mengubah pandangan orang lain terhadapmu."
Feijie berhenti sejenak, hatinya terasa sakit. Dia memperhatikan burung malam dengan tajam, ingatan tentang teman sebayanya yang selalu lebih baik terus muncul kembali dalam pikirannya. Dia tersenyum pahit, "Berusaha tidak selalu menjamin keberhasilan, dan tidak bisa mengubah pandangan semua orang — tetapi jika saya tidak berusaha, tidak berjuang, maka saya akan selamanya terjebak di tempat ini. Daripada takut akan penilaian orang lain, lebih baik saya berjalan mengikuti kata hati saya."
Mata burung malam bersinar, seolah terkejut oleh jawaban yang sederhana namun tegas ini. Akhirnya, burung malam mengangguk pelan, mengepakkan sayapnya, membuka jalan bercahaya untuk Feijie: "Jawaban tulusmu telah membuka jalan ke dalam imajinasi."
Menelusuri jalan kecil yang dipandu burung malam, Feijie tiba di ladang bunga yang memantulkan bintang-bintang. Bunga-bunga itu muncul dengan aura biru kehijauan, setiap satu tampaknya mengandung sebuah cerita. Di tengah ladang bunga, berdiri sebuah patung batu perak, menampilkan seorang penyihir perempuan yang tersenyum, memegang tongkat.
Tiba-tiba, suara bisikan rendah terdengar, kelopak bunga melayang di dekat telinganya: "Ini adalah pilihan terakhir. Setiap orang yang sampai di sini harus memutuskan untuk mengikuti harapan orang lain, atau melangkah di jalan yang mereka percayai, tanpa memedulikan apakah hasilnya cemerlang."
Di dalam botol terlihat cahaya pelangi berkilau. Feijie mencoba membuka tutup botol, tetapi di permukaan botol muncul simbol sihir: "Apakah kamu bersedia menerima takdir yang sudah ditentukan, atau berani mengguncang ritme hidupmu sendiri?"
Jarinya menyentuh tutup botol, dan dalam pikirannya muncul berbagai fantasinya saat kecil — saat ia secara diam-diam membawa hewan kecil melewati hutan, menanam rumput warna-warni di tanah berlumpur; atau bermain petak umpet pada malam hari, menjelajahi setiap inci tanah di bawah sinar bulan perak. Kebahagiaan saat itu sangat tulus dan murni, tidak berkaitan dengan hadiah atau pengakuan, hanya karena dia ingin mengalami, belajar, dan tumbuh.
Ia bergumam pelan: "Meskipun jalan ini mungkin sepi, tapi itu pilihanku. Karena ini petualanganku, saya bersedia menanggung semua kemungkinan."
Begitu kata-katanya terucap, patung itu mulai bergerak perlahan, dan menunjukkan ekspresi yang menghargai: "Keberanian, kejujuran, dan keteguhan, itulah inti dari pertumbuhan." Cahaya dari tongkatnya memancar, api pelangi menyinari botol, menciptakan sepasang sayap cahaya yang lembut menempel di punggung Feijie.
Di saat itu, semua cahaya biru kehijauan di sekitar ladang bunga berkumpul ke tengah. Feijie merasakan aliran kekuatan yang tidak dapat diungkapkan mengalir ke dalam jiwanya, di dadanya seakan ada aurora yang membara. Ia melihat kembali jalan yang telah dilaluinya, dan menemukan jejak yang ditinggalkannya bukanlah jejak kaki, melainkan rangkaian bintang kecil yang bersinar, seolah-olah membentuk galaksi yang dihiasi oleh keinginannya sendiri.
Sebuah angin bertiup, membawa aroma nenek yang akrab, seolah ia berbisik di telinganya: "Kamu sudah mengerti, nilaimu tidak perlu ditentukan oleh orang lain, pegang teguh keyakinan ini, dan teruslah maju dengan berani."
Saat itu, Feijie menyadari sihir di dalam hutan tidak hanya mengubah ruang luar, tetapi juga mendamaikan dirinya dengan bagian dari dirinya yang lemah, tidak aman, namun ingin menciptakan terobosan. Ia mencoba mengepakkan sayap bercahaya di punggungnya, terbang perlahan dari ladang bunga, tetapi ia tidak terburu-buru untuk meninggalkan hutan.
Di sepanjang jalan, Feijie sekali lagi melihat rubah kecil yang lucu, menyambutnya kembali dengan ceria. Rubah kecil itu berkeliling di sekelilingnya, menggoda mengatakan, "Kamu berhasil melewati tiga ujian, sampai aku pun harus mengagumimu. Katakan, bagaimana kamu berencana menjalani jalan berikutnya?"
Feijie tersenyum kecil, berlutut dengan satu lutut, lembut mengelus bulu rubah kecil yang lembut: "Saya masih memiliki banyak keajaiban yang ingin saya lihat, banyak pemandangan yang belum pernah saya lihat. Hutan sihir ini sangat luas, saya ingin menjelajahi lebih banyak rahasia." Ucapannya lembut namun tegas, "Mungkin ada orang yang tidak akan peduli apa yang saya lakukan, atau saya menjadi seperti apa, tetapi saya akan mengingat setiap jejakku. Meskipun jalan ke depan tetap sulit, saya akan tetap maju dengan berani."
Mendengar kata-kata ini, mata rubah itu bersinar dengan kilau, mengangguk puas. "Setiap petualangan pantas untuk dicatat. Tekadmu akan membawa kehidupan baru ke dalam hutan."
Di bawah langit malam, aurora semakin berapi-api. Sayap Feijie berkilau dengan cahaya perak dan semburat biru kehijauan, tampak seolah menyatu dengan bintang-bintang. Ia melangkah dengan percaya diri, memasuki kedalaman hutan, berbagi perasaan dengan burung malam, dan mendiskusikan masa depan dengan rubah kecil. Teman-teman baru yang dia kenal saling berbagi potongan hidup, kegagalan, dan keberanian, dan dia mendengarkan dengan sabar, menggali kisah masing-masing dan mimpi para pengembara.
Di dalam bayang-bayang pohon hutan, muncul seorang makhluk tua tinggi dan kurus, dengan kerutan di seluruh wajah, seorang penjaga pohon. Jenggotnya tergantung rendah seperti lumut di dadanya. "Saudara kecil, diduga hanya penjelajah yang jujur dan berani yang dapat mendengar rahasia yang akan saya ceritakan. Apakah kamu bersedia menukarkan sebuah cerita untuk kata sihir?"
Feijie tersenyum sedikit, dan menceritakan setiap perjuangan dan terobosan hatinya dalam perjalanan ini, setiap kebaikan dan pencerahan dari teman-temannya, bahkan kelemahan dan ketidakpastian yang ia miliki. Dia menceritakan kisahnya dengan detail dan ketulusan, tidak menghindar dari sedikit rasa sakit, juga tidak menyombongkan keberaniannya. Sang penjaga pohon diam-diam mendengarkan, dengan mata hijaunya menyimpan perasaan yang dalam dan lembab, seolah-olah menyimpan kisah-kisah ini di dalam lapisan tahun pertumbuhannya.
Ketika cerita itu selesai, ia berkata lembut, "Kejujuranmu adalah inti dari sihir." Setelah itu, sang penjaga pohon memberikan kepada Feijie sebuah biji yang bersinar, yang membawa iman paling murni dari hutan: "Selama kamu terus melangkah, tidak takut dengan kelemahanmu, kamu dapat menciptakan keajaiban masa depan."
Dengan biji itu dalam genggamannya, Feijie sekali lagi melihat ke balik jalan penuh ujian yang dilaluinya. Itu bukanlah penghalang, tetapi pemandangan yang perlu dalam perjalanan ke depan. Dia memahami bahwa pertumbuhan sejati tidak terletak pada pengakuan orang lain, tetapi pada keberanian untuk menghadapi ketakutan dan keraguan dalam dirinya, dan berani terus mengeksplorasi, mendengarkan, dan percaya.
Di bawah aurora, Feijie melangkah ke batas hutan sihir, sayapnya berkilau, dan wajahnya memancarkan senyum yang tegas dan percaya diri. Petualangan pertumbuhannya tidak berakhir, tetapi justru menyambut awal yang baru. Cahaya dari dalam hutan seolah berbisik lembut — bintang-bintang miliknya bersinar di depan, menata jalan eksplorasi yang tanpa akhir untuk setiap malam penuh harapan di masa depan.
